Salah Satu Cara Hacking di Media Sosial

Thursday, 04 November 21 Venue

Salah satu kejahatan digital di media sosial ialah adanya pesan palsu dari platform. Seperti yang diceritakan Indriyanto Banyumurti, program manager ICT Watch yang sering membantu akun-akun milik instansi pemerintah maupun swasta yang terkena hacking dari modus seperti ini.

ICT Watch menjadi salah satu Facebook Trusted Partner, dimana mereka memiliki kewenangan untuk melacak akun. Hal itu dapat membantu akun yang terkena hacking.

Indriyanto menuturkan, ada salah satu LSM di sebuah kota yang sudah punya follower puluhan ribu dan akunnya di-hack, tidak bisa digunakan. Setelah ditelusuri ICT Watch ternyata kemungkinan besar salah satu admin membaca pesan dan membuka sebuah link.

“Tulisan seperti ini, Anda dianggap melanggar copyright kalau tidak mengklik. Anda benar-benar tidak melanggar akun Instagram Anda dan akan langsung diambil alih. Tidak bisa digunakan,” kata dia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (2/11/2021).

Admin tersebut, kata Indriyanto, memasukan ID dan password untuk login ke Instagram. Padahal buatan Instagram, dalam sekejap akun Instagramnya diambil alih. “Kita membantu, selain dia report sendiri secara manual, kita juga bantu menghubungi Facebook dan Instagram untuk bisa dipercepat,” ujar dia.

BACA JUGA:   Cara Mengurangi Risiko Peretasan

Indriyanto mengatakan, begitulah cara hacking di media sosial mengatasnamakan platform biasanya menerima DM dari akun palsu mengenai pelanggaran hak cipta konten menyertakan link aplikasi sebagai pelaporan. Lalu admin sosmed mengklik dan mengisi formulir lalu admin kembali ke Instagram dan mengganti password baru. Karena baru ganti password semua admin otomatis logout dari Instagram.

Kemudian mencoba masuk dalam password baru, namun password incorrect mencoba masuk menggunakan forget password namun email terdaftar di Instagram tidak bisa dikirimkan ke link login. “Maka untuk media sosial milik instansi, toko online yang banyak admin yang memegang. Usahakan, mereka terliterasi digital untuk tahu bagaimana cara menjaga keamanan digital,” kata Indriyanto.

Indriyanto mengingatkan untuk siapapun yang ingin belajar untuk menjaga keamanan digital. Buka website s.id/jagaprivasi disitu sudah ada berbagai macam tautan yang dapat digunakan untuk dapat membantu meningkatkan keamanan digital. Misalnya, ada praktik privasi WA, di sana ada langkah-langkah untuk mengaktifkan verifikasi dua langkah. Verifikasi dua langkah ini adalah sebuah kunci ganda kunci pertamanya adalah password di mana kita harus membuat password yang kuat lalu kunci keduanya adalah two factor authentication.

“Dalam website itu juga ada cara praktis keamanan untuk email, praktik periksa hoaks, praktik password aman, praktik kunci digital 2FA, security Google, dan lainnya,” ujar dia.

BACA JUGA:   Tak Boleh Lengah, Kenali 8 Jenis Penipuan Online

Dia menambahkan, “jika membuka praktik keamanan untuk email kita akan masuk ke website periksadata.com. Situs ini akan membantu kita apakah email kita pernah bocor atau tidak di dunia internet. Nanti akan ada laporan email kita telah terjadi kebocoran data di situs atau aplikasi mana saja,” kata Indriyanto.

Jadi, lanjut dia, kita dapat lebih waspada untuk mendownload aplikasi dan menggunakan email. Email termasuk penting karena menjadi dasar dalam pembuatan akun di media lainnya. “Banyak belajar untuk dapat menjaga akun media digital kita khususnya para pemegang atau admin media sosial perusahaan. Meskipun ilmu keamanan digital ini juga berguna  bagi setiap pengguna internet.” Kata Indriyanto.

BACA JUGA:   Cegah Candu Internet Pada Anak

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).