Taktik Baru Serangan Siber

Sunday, 01 August 21 Venue

Serangan siber kini menunjukkan tren meningkat selain menggunakan taktik yang lebih kompleks untuk bisa menembus firewall. Industri e-commerce Indonesia yang kini mulai berkembang harus mewaspadai serangan siber dengan menggunakan taktik baru berupa rekayasa sosial.

“Konsumen sering tidak menyadarinya sebagai serangan siber,” kata Rinda Cahyana, Pengurus Pusat Relawan TIK Indonesia & Kepala LPPM STT-Garut, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Jumat (30/7/2021).

Menurut dia, untuk mengatasinya, konsumen harus memahami serangan siber dengan pola rekayasa sosial. Dengan memahaminya, konsumen bisa tetap aman di dunia digital termasuk terhadap industri e-commerce yang kini tengah tumbuh.

BACA JUGA:   Sulit Dihapus, Jejak Digital Bisa Berbahaya

Menurut data yang pernah dirilis Intel Security 2014, dampak ekonomi global dari serangan cybercrime bisa mencapai lebih dari US$400 miliar. Atau sebut laporan itu, angka yang konservatif bisa mencapai US$375 miliar dan angka maksimum bisa mencapai US$575 miliar.

Intel Security dalam laporannya ‘Hacking Human OS’ 2014 menyebutkan teknik yang digunakan hacker atau phisher dalam melakukan serangannya dengan teknik rekayasa sosial. Misalnya, berbentuk validasi: orang cenderung untuk mematuhi ketika orang lain melakukan hal yang sama. Sebuah pesan media sosial cerdik mungkin menipu Anda agar mengklik link hanya karena memiliki kelompok teman-teman Anda di atasnya.

BACA JUGA:   Menjadi Warganet yang Beretika

Menurut Rinda, ada banyak pola penjahat yang cerdik untuk meniru sumber atau otoritas yang terpercaya. Misalnya,  menerima email dari bank yang meminta data pribadi konsumen. “Pola itu perlu diwaspadai,” ujarnya.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Tips Mengubah FOMO Menjadi JOMO

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).