Namun, Ads Mall mengenakan success fee, di mana kalau sudah terjadi transaksi baru dikenakan biaya. “Nilainya itu berbeda-beda, tergantung dari publish rate masing-masing media,” ujar Yohanes.
Yohanes tidak khawatir dengan adanya kemungkinan bypass antara pengiklan dan vendor, yakni transaksinya tidak melalui Ads Mall. Namun, itu justru menjadi kerugian bagi para vendor karena account mereka bisa dianggap palsu karena tidak ada history transaksi di tempat mereka, serta tidak ada rating yang diberikan oleh pembeli.
Di sisi lain, Ads Mall hadir bukan untuk berkompetisi dengan advertising agency. Pasalnya, menurut Yohanes, para advertising agency tersebut juga bisa menjual paket-paket iklan mereka di Ads Mall.
Ads Mall dibuat untuk menciptakan standardisasi baru dari sisi pembayaran, di mana Ads Mall akan membantu para media untuk mendapatkan pembayaran secara cepat atau di muka. “Kalau sudah ada bukti tayang, Ads Mall akan mencairkan uang dari klien ke media,” ujar Yohanes.
Ads Mall memiliki beragam media placement, mulai dari indoor, outdoor static, outdoor mobile, digital media, dan media massa. Media placement tersebut pun tersebar di berbagai lokasi, seperti bandara, mal, stasiun kereta, terminal bus, bioskop, gedung, jalan, jembatan penyeberangan, kantor polisi, gerbang tol, kereta, bus, minitrans, pesawat, motor, truk, billboard, media sosial, portal berita, televisi, radio, koran, tabloid, dan majalah. Dengan demikian, Ads Mall akan membuat produk atau jasa yang dipromosikan tersebar ke seluruh konsumen.
Melalui Ads Mall, pemegang brand dan jasa bisa langsung memilih media yang diinginkan sesuai dengan target market melalui aplikasi secara online. Ads Mall juga memiliki tim marketing yang bisa membantu merancang konsep dan memilih media yang cocok dan tepat sasaran untuk brand dan jasa.





