COVID Membuat Perjalanan Spiritual Meningkat

Thursday, 09 July 20 Bonita Ningsih
Wisata Religi

Pandemi COVID-19 memaksa masyarakat untuk tetap tinggal di rumah dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini tentu menimbulkan kebosanan lantaran tidak dapat menjalani aktivitas di luar rumah seperti bekerja atau liburan.

Berlibur memang menjadi sesuatu hal yang mahal dan jarang ditemui di masa pandemi. Namun, memasuki era tatanan baru atau new normal kali ini, masyarakat sudah mulai menyiapkan perjalanan wisatanya untuk liburan.

Tedjo Iskandar, Founder TTC Travel Mart, mengatakan, antusias masyarakat untuk bepergian atau berlibur masih terbilang cukup tinggi. Apalagi, jika aturan lockdown di berbagai negara sudah dicabut atau dilonggarkan, wisatawan dapat segera berlibur ke destinasi yang dituju.

“Saya sudah berbicara ke teman-teman tour leader di dalam maupun luar negeri dan mereka semua optimistis akan segera jalan. Tinggal tunggu lockdown dibuka, mereka langsung bisa jalan bawa wisatawan,” ungkap Tedjo.

Kendati demikian, akan ada perubahan perilaku yang dilakukan wisatawan dalam bepergian. Jika di kondisi normal wisatawan lebih memilih melakukan perjalanan grup, tetapi di new normal lebih memilih untuk melakukan grup kecil.

“Bisa juga buat grup customize atau grup kecil yang isinya itu hanya keluarga terdekatnya. Jadi, tour leader di sini harus siap-siap menghadapi itu semua,” ucapnya lagi.

Terkait pilihan destinasi, Tedjo mengatakan, tren yang akan terjadi ke depannya ialah perjalanan spiritual. Hal ini mengingat banyak sekali tantangan yang dihadapi masyarakat selama pandemi sehingga diperlukan perjalanan spiritual untuk membersihkan pikiran.

“Buat yang muslim itu bisa memilih untuk umrah, bagi umat Kristiani bisa ziarah ke tempat-tempat yang sakral. Buat yang Kristen Katolik bisa ke Israel, dan yang beragama Hindu dan Buddha bisa ke India,” jelasnya lagi.

Selain itu, wisatawan juga akan lebih memilih destinasi tersegmentasi dan anti-mainstream. Menurutnya, wisatawan akan memilih daerah atau negara yang masih jarang dijamah orang untuk mendapatkan pengalaman berbeda saat traveling.

“Khususnya untuk kaum milenial, mereka lebih suka yang unik-unik. Mereka akan mencari negara atau daerah di luar sana yang tidak mainstream, seperti Nepal atau Tibet,” ujar Tedjo.