Apalagi, menurutnya, para turis yang high spender memiliki pendidikan tinggi sehingga diperlukan strategi terbaik untuk mengajak mereka kembali berwisata di Indonesia. Bahkan, selama di Indonesia, turis-turis tersebut selalu menjaga lingkungan sekitar dan mengurangi polusi udara sehingga pantas disebut sebagai turis berkualitas atau quality tourist.
“Mereka juga selalu respek dengan kultur kita, dan selalu bersemangat kalau ada acara-acara kedaerahan,” ujar Denon.
Rusmiati, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (ASITA), membagikan ciri-ciri dari quality tourist. Menurutnya, waktu menginap para turis minimal enam hari dengan spending atau pengeluaran mencapai US$1.700 per kunjungan per turis. Selain itu, para turis juga harus melakukan perjalanan lebih dari satu destinasi agar dapat dinyatakan sebagai quality tourist.
“Jadi, memang kualitas dan kuantitas sangat penting dan tidak dapat dipisahkan. Waktu di zaman Menteri Pariwisata yang lalu kita sudah mengedepankan kuantitas, dan saat ini kita mencoba di kualitas,” ujar Rusmiati.






