“Dalam dunia MICE ‘kan ada PCO, EO, venue, kontraktor, dan vendor lainnya, dan mereka itu punya mekanisme masing-masing. Jadi, kita perlu duduk bareng membahas setting goal-nya apa dan mekanisme dari masing-masing seperti apa. Bagaimana nanti bentuk kerja samanya, ‘kan semua beda-beda,” katanya lagi.
Prinsip lainnya yang tidak kalah penting ialah adanya kompromi satu sama lain. Menurut Hariman, prinsip ini sering kali dilupakan setiap pelaku kolaborasi karena adanya ego yang tinggi antar-sesama.
“Padahal orang Indonesia katanya suka musyawarah untuk mufakat, tapi kompromi kadang suka dilupakan. Jangan sampai ada lagi yang namanya egois, kalau memang mau egois ya lebih baik keluar dari kolaborasi ini,” ucap Hariman.
Tidak hanya itu, kejujuran dan keterbukaan juga menjadi prioritas dari sebuah kolaborasi. Dalam kondisi seperti ini, masalah biaya menjadi hal yang sensitif sehingga diharapkan pelaku industri bersikap jujur dan terbuka.
“Kita memang ingin mencari untung yang besar, tetapi dengan kondisi seperti ini cobalah untuk terbuka. Sebenarnya kita juga bisa hitung sendiri berapa biaya yang memang diperlukan EO atau PCO dalam menyelenggarakan acara,” ungkapnya.
Prinsip terakhir yang harus dimiliki saat melakukan kolaborasi ialah komitmen. Menurutnya, keempat prinsip di atas dapat menjadi satu kesatuan yang pasti jika ditunjang dengan komitmen satu sama lainnya.
“Kalau kita sudah bicara empat prinsip sebelumnya, tetapi tidak ada komitmen, ya percuma saja. Mudah-mudahan dengan menjalankan kelima prinsip ini, Insya Allah semuanya bisa dilakukan dengan baik walaupun dengan kondisi seperti ini,” tambahnya.




