Tokyo Menjadi Pusat Belanja di Jepang

Tuesday, 06 August 19 0 Comments   Bonita Ningsih
Gunung Fuji Jepang

Jepang menjadi salah satu tujuan wisata yang paling diminati oleh wisatawan dunia. Kendati demikian, pemerintah Jepang sangat menyayangkan karena hanya wilayah Tokyo saja yang menjadi pusat perhatian para turis yang datang ke Jepang.

Menurut Organisasi Pariwisata Nasional Jepang, jumlah pengunjung di Jepang pada paruh pertama 2019 naik sebanyak 4,6 persen dari tahun sebelumnya. Mereka mencatat hingga saat ini sudah ada sekitar 16,63 juta orang yang mengunjungi Jepang. Meskipun terjadi perlambatan dalam tingkat pertumbuhan, angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang periode Januari hingga Juni.

Nikkei menganalisis data yang dikumpulkan oleh anak perusahaan NTT Docomo tentang jumlah pengunjung asing yang datang ke Jepang pada tahun 2016 dan 2018. Data tersebut menunjukkan bahwa wisatawan yang berkunjung ke Jepang Barat meningkat 41 persen, berbeda dengan yang datang ke Jepang Timur dan Tengah hanya sekitar 20 persen.

Dari 20 kota yang memiliki tingkat pertumbuhan terbesar, terdapat 16 kota yang berada di Jepang bagian Barat. Salah satu yang menjadi tujuan wisata terbanyak ialah distrik Chuo di kota Osaka, di sana para turis mengunjungi Istana Osaka. Pada 2018 silam, sebanyak 13,95 juta orang mengunjungi distrik Chuo.

Meskipun memiliki jumlah wisatawan yang banyak, pengeluaran wisatawan di kota Osaka lebih rendah dibanding di Tokyo. Menurut analisis, para wisatawan mancanegara yang datang ke Jepang menghabiskan biaya konsumsinya di Tokyo, mulai dari penggunaan kartu kredit hingga metode pembayaran lainnya. Dari sekian banyak kota yang ada di Tokyo, distrik Shibuya yang paling banyak menarik wisatawan untuk mengeluarkan uangnya.

Hal ini dapat dilihat saat banyak turis asing yang mengikuti tur jalan kaki di sekitar stasiun daerah Shibuya. Mereka diajak ke sebuah toko diskon Don Quijote yang populer di kalangan turis asing. Masing-masing turis membawa tas besar yang nanti diisi oleh sejumlah barang belanjaan dari toko tersebut. Selain itu, di Tokyo Department Store yang berhubungan langsung dengan stasiun Shibuya, terlihat turis asing yang membeli barang-barang bermerek secara massal.

Menurut Hiroaki Tsukada dari Mitsubishi UFJ Research and Consulting, jumlah wisatawan asing di Osaka memang lebih banyak dibanding di Tokyo. Namun, para turis cenderung menghabiskan banyak uangnya di tujuan akhir mereka, yakni Tokyo.

“Mereka cenderung menghabiskan banyak uang di Tokyo, padahal di sana biaya penginapan dan makannya tinggi,” katanya.

Menurut Departemen di Jepang, kebanyakan turis dari Cina dan negara lainnya memilih untuk terbang ke Jepang Barat. Mereka memilih untuk berbelanja di Tokyo dan pulang melalui bandara Haneda atau Narita yang ada di Tokyo. Dengan begitu, wisatawan asing menyumbang konsumsi terbesar untuk wilayah Tokyo.

Selain Tokyo, desa Yamanakako di Prefektur Yamanashi menduduki peringkat kedua sebagai kota yang mendapatkan pengeluaran terbesar dari para turis. Banyak turis yang datang ke sana untuk mendaki Gunung Fuji. Kemudian, di urutan ketiga ada Desa Shimukappu di Hokkaido yang memiliki pendapatan terbesar bagi turis asing. Di sana ramai pengunjung setelah perusahaan China mengakuisisi resor lokal bernama Hoshino Resorts Tomamu.