Tangerang, Venuemagz.com – Pameran dagang industri makanan dan minuman tidak hanya menjadi ajang memperkenalkan produk, tetapi juga membuka peluang kemitraan antara industri kecil dan menengah (IKM) dengan industri berskala besar.
Melalui kegiatan pameran dan business matching KRISTA InterFOOD yang berlangsung 4 – 7 November 2026 di NICE PIK 2, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya memperluas pasar produk antara (intermediate product) berbasis bahan baku lokal.
Indra Akbar Dilana, Ketua Tim Makanan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kemenperin, pada acara Talkshow Krista Interfood hari pertama (4/11/2026), mengatakan, Indonesia memiliki potensi bahan baku pangan yang beragam, mulai dari singkong, talas, porang, sagu, hingga hasil perikanan dan perkebunan.
Namun, potensi tersebut perlu didukung pengolahan yang mampu memenuhi kebutuhan industri pengguna. Menurut Indra, produk antara dapat menjadi solusi untuk memperpendek rantai pasok sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.
Bahan baku yang telah melalui proses pengolahan awal akan lebih mudah dimanfaatkan oleh industri makanan dan minuman, termasuk sektor hotel, restoran, dan katering (Horeca).
Ia mencontohkan pengembangan sentra pengolahan ikan di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Ikan diolah menjadi ikan lumat (minced fish) yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku oleh IKM pembuat otak-otak dan kerupuk.
Dengan pengolahan terpusat, pelaku usaha tidak perlu lagi menangani seluruh tahapan pengolahan bahan baku. Pengelolaan limbah seperti tulang dan sisa pengolahan juga dapat dilakukan lebih efisien.
Model serupa dapat diterapkan pada komoditas perkebunan. Ampas kelapa, misalnya, dapat diolah menjadi tepung kelapa (desiccated coconut) yang dibutuhkan industri makanan, termasuk produsen kue dan pelaku usaha Horeca. Produk tersebut juga memiliki peluang pasar ekspor.
Potensi lain datang dari komoditas alpukat yang dapat dikembangkan menjadi tepung, produk beku (frozen avocado), hingga minyak alpukat. Pengolahan menjadi produk antara memungkinkan hasil panen disimpan lebih lama dan memiliki pilihan pasar yang lebih luas.
Indra menjelaskan, pengembangan produk antara juga ditujukan untuk membantu menjaga stabilitas harga komoditas ketika memasuki musim panen. Dengan tersedianya fasilitas pengolahan, hasil pertanian tidak harus seluruhnya dijual dalam bentuk segar pada saat produksi melimpah.
Meski demikian, pengembangan produk lokal tidak selalu berarti menggantikan bahan baku impor sepenuhnya. Kemenperin mendorong tepung lokal seperti singkong, talas, porang, dan sagu menjadi bahan komplementer melalui formulasi yang sesuai dengan kebutuhan industri besar.
Tantangan berikutnya adalah memastikan produk IKM memiliki standar mutu, kapasitas produksi, sertifikasi, dan kemampuan mesin yang memadai sebelum dipertemukan dengan calon pembeli industri.
Di sinilah kegiatan pameran dan pertemuan bisnis memiliki peran strategis. “Keikutsertaan IKM dalam pameran dapat memperkuat eksistensi sekaligus memperkenalkan kemampuan produksi mereka kepada calon mitra usaha,” kata Indra.
Kemenperin juga telah menjalankan program business matching untuk mempertemukan IKM yang telah memenuhi persyaratan dengan industri pengguna. Salah satu tahapan awalnya dilakukan pada 2021, melalui seleksi terhadap peserta program pengembangan produk pangan sebelum dipertemukan dengan calon pembeli, termasuk sektor Horeca.
“Fungsi kami adalah mencari penghasil bahan baku, mempertemukan pelaku IKM dengan calon industri besar, serta memastikan rantai pasoknya bisa berjalan dengan efisien,” ujar Indra.
Dalam konteks industri MICE, pameran dagang seperti KRISTA InterFOOD 2026 menjadi salah satu ruang strategis bagi pelaku usaha untuk membangun jejaring bisnis. Interaksi langsung antara produsen, distributor, pemasok, hingga calon pembeli membuka kesempatan bagi produk lokal untuk masuk ke rantai pasok industri makanan dan minuman yang lebih luas.
Dengan demikian, keberhasilan sebuah pameran tidak hanya diukur dari jumlah peserta maupun pengunjung yang hadir. Peluang transaksi, terbentuknya kemitraan, dan keberlanjutan hubungan bisnis setelah pameran menjadi bagian penting dari nilai ekonomi yang dihasilkan industri MICE.




