Kemudian, Nalendra menjelaskan skenario kedua atau yang disebut dengan skenario B (early euphoria). Skenario ini terjadi ketika jumlah kasus baru relatif tinggi dan di saat bersamaan vaksin COVID-19 ditemukan. Dengan begitu, booking hotel hingga pembelian paket wisata akan meningkat tajam sehingga bisnis para pelaku pariwisata dapat kembali seperti sedia kala.
“Di skenario ini, tidak ada salahnya bagi pelaku pariwisata untuk melakukan preparing atau persiapan di bisnisnya. Kami sarankan agar mereka melakukan persiapannya mulai dari sekarang,” ucapnya lagi.
Setelah itu ialah skenario terakhir yang disebut Post Normal, di mana vaksin sudah ditemukan dan dunia berhasil menekan jumlah kasus baru. Dalam skenario ini, perilaku wisatawan akan perlahan kembali seperti waktu semula sebelum kasus COVID-19 berkembang di dunia.
Meskipun dapat kembali normal, wisatawan akan semakin aware terhadap dampak negatif yang dihasilkan dalam sebuah perjalanan, seperti emisi karbon. Oleh karenanya, kondisi ini memunculkan fenomena baru berupa microcation (perjalanan pendek) dan slow tourism (mengunjungi sedikit destinasi namun lebih mendalami pengalamannya di satu daerah saja). Ke depannya, kedua fenomena ini akan semakin populer di industri pariwisata.
Lebih lanjut Nalendra mengatakan, segmen upper dan luxury market dipercaya dapat cepat rebound pasca-COVID-19. Alasannya, segmen tersebut relatif memiliki pendapatan tinggi dibanding segmen lain yang terimbas krisis ekonomi akibat COVID-19.
“Terutama segmen family dan baby boomers kelas atas akan mulai melakukan perjalanan luar negeri dengan memerhatikan destinasi berkualitas. Hal ini terjadi seiring dengan tingkat keyakinan yang tinggi bahwa dunia sudah semakin baik,” ujarnya.
Untuk itu, para pelaku bisnis dan stakeholder pariwisata harus cermat untuk melihat gejala-gejala dan perubahan yang terjadi di sini. Ini dilakukan agar strategi yang dipersiapkan dapat sesuai dengan perubahan-perubahan perilaku wisatawan.
Ia mengatakan lanskap bisnis juga perlu dianalisis dan dipantau terus-menerus dengan melihat aspek 4C, yaitu Change, Customer, Competitor, dan Company. Nantinya, keempat aspek tersebut akan diterjemahkan ke dalam strategi pemasaran masing-masing perusahaan.





