“Intinya adalah mengurangi beban operasional itu menjadi paling tidak 30 persen sampai 50 persen. Ini mau tidak mau harus dilakukan di sektor hotel dan restoran agar tetap hidup,” ujar Haryadi.
Langkah ini sudah dilakukan oleh beberapa hotel yang ada di Indonesia, khususnya di Bali. Haryadi membenarkan bahwa sudah banyak hotel yang merumahkan sebagian karyawannya sejak virus ini menjadi perhatian dunia.
“Hotel itu ‘kan punya tiga jenis karyawan, yaitu karyawan harian, kontrak, dan tetap. Jadi, untuk yang daily worker memang sudah tidak dipakai lagi sejak kejadian ini, bukan karena di-PHK seperti kabar simpang siur yang kalian dengar ya,” ujar Haryadi.
Sementara itu, untuk karyawan kontrak dan tetap masih dipekerjakan dengan waktu yang ditentukan. Artinya, mereka bekerja secara bergantian setiap harinya sehingga dapat mengurangi beban biaya operasional dari setiap hotel.
“Restoran juga sama seperti hotel, banyak juga karyawan lepasnya, tetapi tidak terlalu rumit seperti hotel. Jadi, lebih mudah untuk mengatur cash flow-nya,” ujar Haryadi.
Selain biaya operasional, setiap hotel dan restoran juga perlu menjaga biaya lainnya yang ada di dalam manajemen. Ia mengatakan, untuk biaya besar lainnya akan dibicarakan langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk diberikan keringanan kepada mereka yang terkena dampak ekonomi dari virus COVID-19.






