Provider EL Rugi hingga Rp2 Triliun Karena Corona

Tuesday, 31 March 20 Bayu Hari
Kali Suci
Aktivitas Experiential Learning di obyek wisata Kali Suci,Yogyakarta.

Berdasarkan hasil survei Dampak Corona Terhadap Industri Experiential Learning (EL) yang dilakukan Asoasiasi Experiential Learning Indonesia (AELI) tercatat potensi kerugian provider EL nasional mencapai lebih Rp2 triliun. Angka tersebut terhimpun dari nilai sekitar 12.050 program capacity building periode Februari-April 2020 yang ditunda atau dibatalkan karena adanya wabah corona.

Survei itu juga menyebutkan para pelaku EL atau lebih dikenal awam sebagai provider outward bound (outbound), apabila wabah corona masih berlanjut, sekitar 64 persen provider EL yang sebagian besar merupakan UMKM hanya mampu bertahan selama 1-3 bulan. Pada bulan Juni 2020 diperkirakan akan ada 962 provider di Indonesia yang akan tutup usaha.

BACA JUGA:   Kopdarnas EL Preneur 2018: Peserta Diajak Belajar, Berbisnis, dan Menolong Korban Gempa

Penutupan itu akan berdampak pada jumlah penganguran yang meningkat di industri tersebut. Dipaparkan bahwa jumlah tenaga kerja yang dirumahkan atau PHK di sektor ini mencapai 2.160 orang pada periode April hingga Juni 2020.

Terkait dampak ekonomi terhadap industri EL di Indonesia, DPP AELI berharap pemerintah dapat memberikan kebijakan yang berpihak pada industri. Adapun kebijakan itu di antaranya:

BACA JUGA:   PT Datascrip Ditunjuk Sebagai Distributor Dell di Indonesia

1. Memberikan stimulus ekonomi bagi pelaku berupa; pembebasan iuran BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan, solusi terkait modal usaha, dan solusi terkait hutang usaha.

2. Menjadikan anggota AELI sabagai mitra bagi pemerintah dan dunia usaha untuk meningkatkan kapasitas SDM agar dapat kembali bangkit pasca wabah corona berakhir.

Sementara itu, program EL memang memiliki kaitan erat dengan sektor pariwisata. Pasalnya, program capacity building dengan metode experiential learning umumnya terdiri dari experiential training, experiential event, dan experiential tourism. Di mana semua program itu kerap menggunakan destinasi atau atraksi wisata serta melakukan eksplorasi terhadap kekayaan budaya Indonesia.