Hotel Indonesia Natour Mencatatkan Hasil Positif Sepanjang 2017

Wednesday, 17 January 18 0 Comments   Harry Purnama
Hotel Indonesia Natour
Grand Inna Bali Beach, salah satu properti milik Hotel Indonesia Natour. Foto: Dok. HIN

Sejalan dengan program transformasi yang terus dilaksanakan, PT Hotel Indonesia Natour (Persero) berhasil mencapai berbagai peningkatan positif sepanjang 2017. Beberapa hasil positif yang berhasil dicapai pada 2017 tersebut antara lain tingkat hunian kamar yang naik dari 60,2 persen pada 2016 menjadi 67,1 persen pada 2017. Sementara itu, target okupansi untuk tahun 2018 adalah 72,8 persen.

Selain itu, total jumlah kamar yang dimiliki PT Hotel Indonesia Natour (HIN) juga meningkat dari 842.166 kamar pada 2016 menjadi 851.638 pada 2017. Peningkatan sebesar sekitar 1,12 persen tersebut dicapai sejalan dengan pelaksanaan renovasi kamar serta bergabungnya hotel Grand Inna Daira Palembang pada kuartal keempat tahun 2017. PT Hotel Indonesia Natour menargetkan pada tahun 2018 jumlah kamarnya bertambah menjadi 853.370 kamar.

Sementara itu, jumlah tamu yang menginap juga meningkat dari 356.218 tamu pada 2016 menjadi 486.274 pada 2017, atau meningkat sekitar 36,5 persen, dengan 71 persen di antaranya didominasi oleh wisatawan nusantara. Tamu wisman juga mengalami peningkatan sebesar 132 persen dibanding tahun 2016, dengan tamu terbanyak dari Cina, Australia, dan Eropa.

Untuk harga rata-rata kamar (average room rate) meningkat sebesar 8,4 persen dari Rp650.000 menjadi Rp713.000. Kenaikan tersebut berada di atas tingkat inflasi tahunan Indonesia.

Pada 2017, pendapatan usaha PT Hotel Indonesia Natour mengalami peningkatan cukup signifikan, dari Rp539 miliar pada 2016 menjadi Rp637 miliar pada 2017. “Target pendapatan tahun ini sebesar Rp730 miliar atau tumbuh 12 persen. Perkiraan laba bersihnya Rp8,7 miliar pada 2018,” ujar Iswandi Said, Direktur Utama PT Hotel Indonesia Natour.

Adapun tiga penyumbang pendapatan terbesar PT Hotel Indonesia Natour berasal dari online travel agent (OTA), biro perjalanan domestik, dan lembaga pemerintahan. “Lembaga pemerintahan seperti BUMN dan yang lainnya melihat bahwa hotel-hotel HIN sudah bisa dijadikan rekomendasi untuk digunakan sebagai tempat menginap maupun untuk kegiatan lainnya,” ujar Iswandi Said.

Pada 2017 Hin juga berhasil melakukan restrukturisasj utang sehjngga EBITDA (pendapatan sebelum dikurangi bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) melonjak 500 persen dibanding tahun 2016.

“Kalau dilihat dari roadmap-nya HIN, tahun ini adalah tahunnya take off kita. HIN terbentuk pada 2015, lalu pada 2016 kita canangkan tidak menambah kerugian lagi, dan tahun ini kami targetkan menutup dengan BEP, minimal tidak ada rugi lagi, dan harus sudah ada profit,” ujar Iswandi.

Untuk mencapai hal tersebut, ada dua strategi yang akan dilakukan. Pertama adalah memperbaiki produk atau direnovasi. “Kalau kemarin-kemarin kita hanya memperbaiki yang rusak, sekarang kita juga akan sekaligus sesuaikan standarnya dengan standar HIN. Kalau hotel bintang 4, ya fasilitasnya juga sesuai dengan bintang 4,” ujar Iswandi.

Strategi yang kedua adalah dari segi marketing. HIN akan melakukan kegiatan yang bersinergi dengan BUMN lainnya, sebab keberhasilan yang dicapai saat ini tidak terlepas dari sinergi BUMN lain yang memercayakan kegiatannya di hotel-hotel milik HIN.