Menimbang kapan waktu yang tepat untuk memberikan anak kemandirian mengakses dunia maya menjadi salah satu dilema terbesar yang dihadapi orangtua modern saat ini. Menurut Reiza Praselanova, Coach Public Speaking & Pendidikan dan Relawan TIK, mulai dari bahaya orang asing hingga cyberbullying, para orangtua perlu merasa yakin agar anak-anak mereka tetap aman di Internet.
“Ada banyak ancaman dan risiko online yang dapat memengaruhi sikap anak-anak terhadap internet,” kata dia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Rabu (06/10/2021).
Menurut dia hampir setiap anak sekarang memiliki akses ke perangkat yang terhubung ke internet, ada kemungkinan mereka akan menemukan konten yang tidak pantas atau berisiko memiliki ancaman online – seperti modus grooming ataupun pencurian identitas.
“Orangtua cukup menyadari bahwa percakapan dan nasihat mungkin tidak selalu cukup untuk memastikan anak-anak mereka menghargai risiko potensial dari menjelajah internet, banyak orangtua juga bahkan menggunakan aplikasi untuk mengontrol konten dan penetapan waktu yang dihabiskan di perangkat,” kata Reiza.
Pihaknya mendorong orangtua untuk menempatkan asumsi apapun yang mereka miliki tentang kebiasaan online anak-anak mereka pada sudut pandang tepat, berdialog terbuka dengan anak-anak mereka tentang perlunya mengontrol kegiatan digital dan keamanan internet. Karena konten berbahaya adalah salah satu hal yang sangat mungkin mereka temukan saat menjelajah dunia maya.
Dia mengatakan, orangtua modern beranggapan bahwa menjaga keamanan saat berselancar di internet adalah tindakan yang efektif. Orangtua setidaknya menyetujui bahwa anak-anak mereka sepenuhnya menyadari risiko online. Orangtua juga dapat didorong untuk mengambil pendekatan yang lebih proaktif dalam mengetahui apa yang telah dilakukan anak-anak mereka secara online.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 -untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).





