Memasarkan Rilisan Musik di Era Digital

Wednesday, 28 July 21 Venue

Di era digital, memasarkan rilisan musik tak melulu tentang produksi album atau Extended Play (EP) yang diabadikan pada cakram padat, pita kaset, atau compact disc yang kemudian didistribusikan ke toko-toko musik di setiap kota atau daerah. Kini, musisi dapat dengan mudah mendistribusikan karyanya melalui berbagai media online.

“Baik melalui media sosial, layanan streaming, maupun web profile,” kata dr. Chrissa Maichel Kainama, saat menjadi Key Opinion Leader dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (27/7/2021).

Munculnya situs jaringan sosial seperti My Space pada awal 2000-an, kata Chrissa, sesungguhnya menjadi salah satu penanda era digital telah merambah ke dalam ekosistem music. Menurutnya, era digital membuat batasan antarnegara atau teritorial menjadi semakin kabur. Hal ini berlaku juga dalam pendistribusian rilisan musik.

BACA JUGA:   Konten Menarik, Banyak yang Lirik

Melalui media digital, para musisi dapat mendistribusikan karyanya dengan bebas, bersaing dengan jutaan karya musik di seluruh dunia, dan membuat semakin kaburnya eksklusivitas dari para musisi yang lebih dahulu terjun ke dunia musik. “Kini, para pendengar bisa lebih bebas mencari karya musik yang benar-benar sesuai dengan selera musik yang mereka senangi,” katanya.

Di antara kemudahan era digital dalam hal pendistribusian rilisan musik, agaknya perlu diperhatikan pula kesulitan yang akan ditemui oleh para musisi. Salah satunya, persaingan karya antarmusisi yang pada mulanya terbatas pada beberapa limitasi, kini semuanya menjadi lebih terbuka dan bebas. “Mereka yang dikatakan berhasil secara umum adalah mereka yang berhasil menarik minat pendengar sebanyak mungkin.”

Menghadapi kesulitan ini, menurut Chrissa, diperlukan beberapa penyesuaian dan strategi bagi para musisi yang ingin mendistribusikan karyanya melalui media digital. Berikut beberapa strategi yang diperlukan dalam mendistribusikan rilisan musik di era digital, seperti Substance over form, Platform digital, Engagement di media sosial, Little Spam, dan “Good Merch Never Goes Wrong”.

BACA JUGA:   Social Media Specialist, Profesi Menggiurkan di Era Digital

Chrissa mengatakan, menjadikan sebuah karya musik dikenal dan tersebar luas kepada para pendengar bukan merupakan misi utama dalam mencipta karya. Sebuah karya yang diproduksi dengan jujur dan penuh pesan akan menemukan celahnya sendiri untuk sampai pada para pendengarnya.

“Menjadi musisi memang tidak melulu membuat karya musik kita menjadi terkenal tetapi juga berkaitan dengan tersampaikannya pesan yang kita bawa. Dengan kemudahan media digital sebagai sarana promosi karya musik lantas bukan menjadi pembiaran bagi para musisi untuk membuat karya-karya tidak berkualitas hanya demi mencari ketenaran semata,” tuturnya.

BACA JUGA:   Cara Melindungi Data Pribadi di Internet

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).