Mengatasi Kecanduan Gawai Pada Anak

Tuesday, 24 August 21 Venue

Teknologi, salah satunya melalui gawai, memiliki peran penting dalam membantu perkembangan buah hati tercinta. Namun, penggunaannya perlu dibatasi agar anak tidak alami berbagai gangguan kesehatan akibat kecanduan gawai.

“Karena penggunaan gawai membuat si kecil menjadi lupa makan, malas pergi ke sekolah, hingga marah dan menangis saat gawainya diambil, bisa jadi ia sudah mengalami kecanduan gawai,” kata Lilik Yulianah, Anggota FPRB Tulungagung & Pegiat Literasi, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Senin (23/8/2021).

Menurut dia, kondisi tersebut tentu tidak boleh dianggap sepele. “Oleh karena itu, perlu mengatasinya dengan cara yang tepat,” ujarnya.

Lilik mengatakan, sesungguhnya banyak hal yang bisa dipelajari anak melalui gawai. Mulai dari bagaimana cara menari hingga membuat macam-macam prakarya. Selain itu, gawai juga bisa menjadi sarana hiburan bagi anak karena terdapat beragam games yang bisa dimainkan.

BACA JUGA:   Ragam Cara Menghindari Berita Hoaks

“Tapi jika terlalu sering main gawai, apalagi tanpa pengawasan, anak kita bisa kecanduan gawai. Hal ini dapat berdampak buruk bagi tumbuh kembang dan kehidupan sosial anak,” kata dia.

Untuk mengatasi hal itu, Lilik mengatakan, terdapat langkah-langkah yang bisa diterapkan untuk mengatasi kecanduan gawai pada anak,  di antaranya:

  • Jadi contoh yang baik untuk anak

Anak-anak kerap mengambil pelajaran dari lingkungan sekitarnya, tak terkecuali mengenai kebiasaan menggunakan gawai orangtuanya. Jika masih sering bermain gawai di depannya, si kecil juga akan meniru kebiasaan tersebut. Jadi mulai sekarang, usahakan tidak sibuk dengan gawai saat bersama si kecil.

  • Batasi dan awasi penggunaan gawai pada anak

Untuk mengatasi kecanduan gawai pada anak, waktu mengakses gawai harus dibatasi. Bisa memberi waktu 1–2 jam dalam sehari untuk menggunakan gawai. Selain itu, awasi juga anak saat bermain gawai, supaya ia tidak mengakses konten pornografi atau kekerasan. Dalam menerapkan batasan ini, orangtua perlu bersikap tegas. Latih anak untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum bermain gawai dan mengembalikannya dengan baik setelah selesai digunakan. Simpanlah gawai di tempat yang tidak diketahui oleh anak sehingga ia tidak bisa menggunakannya tanpa seizin orangtua.

  • Buat aktivitas menyenangkan bersama anak
BACA JUGA:   Untung-Rugi Belanja Online

Buatlah aktivitas menyenangkan agar pikiran anak teralihkan dari gawai. orangtua bisa mengajak Si Kecil untuk bersepeda atau lari pagi, memasak bersama, menggambar atau mewarnai bersama, atau berkebun di pekarangan rumah.

  • Tetapkan wilayah bebas gawai di rumah

Orangtua bisa menetapkan tempat-tempat bebas gawai di dalam rumah, misalnya ruang makan, ruang keluarga, atau kamar tidur. Artinya ketika berada di dalam ruangan ini, siapa pun tidak boleh menggunakan gawai. Pastikan orangtua juga menaati aturan tersebut.

BACA JUGA:   Risiko Belanja Online, Hal Ini yang Harus Diwaspadai

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).