Meresahkan, Yuk Lawan Cyberbullying

Thursday, 15 July 21 Venue

Cyberbullying atau bully yang dilakukan di internet cukup meresahkan banyak orang. Walaupun tindakan tersebut dilakukan tidak secara langsung di kehidupan nyata, dampak dari cyberbullying justru bisa lebih parah berkepanjangan kepada korban bully.

“Tindakan ini tentu harus dilawan. Sebagai pemilik akun medsos, jangan biarkan cyberbullying mendarah daging dan merusak kehidupan penggunanya,” ujar Musaiyana, Founder Sampang Young Inspiration, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Rabu (14/7/2021).

Menurutnya, dengan adanya dunia maya banyak pelaku cyberbullying, berlindung di anonymous account untuk mem-bully orang lain. “Biasanya, pelaku menutupi kekurangannya dengan cara bully. Faktanya, pelaku dan korban memiliki ketakutan yang sama. Namun muncul dengan cara yang berbeda.”

BACA JUGA:   Pemerintah Akselerasi Pengembangan SDM Digital

Banyak jenis cyberbullying yang biasa dilakukan pem-bully di media sosial. Cara-cara tersebut bisa berupa ledekan yang dilontarkan pada kolom komentar akun medsos korban, hingga cara yang paling tidak etis, yaitu meretas akun medsos korban dengan konten yang tidak sesuai.

Sedangkan penyebab terjadinya cyberbullying, Musaiyana pun memaparkan. Pertama, memposting terlalu sering dan banyak yang dapat mengganggu orang lain dan memancing adanya cyberbullying. Kedua, apapun yang diunggah ke sosial media, pasti menimbulkan pro dan kontra. Apalagi ketika posting sesuatu yang dianggap aneh dan mengundang bully, meskipun hanya bully di dalam hati. Oleh karena itu, sebagai pengguna media sosial, sebaiknya batasi mengunggah konten yang mengganggu.

BACA JUGA:   Memilah Kata di Dunia Maya

Musaiyana pun meminta agar pintar-pintar memilih teman di media sosial. “Akun media sosial tidak harus selalu terbuka untuk semua orang. Semakin banyaknya teman di media sosial, maka Anda harus siap-siap dengan banyaknya komentar yang datang.”

Selain itu, tidak sembarang bercerita di media sosial, membedakan hal yang lebih baik diceritakan pribadi atau di media sosial. Karena, perbedaan persepsi biasanya terjadi di media sosial. “Setiap orang pun dituntut untuk pandai bersikap dalam menggunakan sosial media,” ujar dia.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Literasi Digital dan Keamanan Data

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).