Tak Perlu Khawatir dengan Jejak Digital

Saturday, 04 September 21 Venue

Jejak digital merupakan jejak data yang tertinggal saat seseorang menggunakan internet. Menurut Rakhmad Maulidi, Dosen STIKI Malang, bentuk jejak digital bisa bermacam-macam mulai dari Situs yang pernah dikunjungi, surel yang dikirimkan, dan beragam informasi yang sempat dikirim atau dibagikan secara daring (online).

“Jejak digital menjadi dua jenis yakni aktif dan pasif,” kata dia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (2/9/2021).

Jejak digital aktif, kata Rakhmad, merupakan data yang sengaja dibagikan oleh pengguna internet dengan harapan bisa dilihat atau disimpan oleh orang lain.

“Semakin banyak data atau informasi yang dibagikan, maka semakin banyak jejak digital yang bisa dilihat atau disimpan oleh orang lain. Mengirim surel atau unggahan di blog dan media sosial merupakan contoh jejak digital aktif,” ujar Rakhmad,

BACA JUGA:   Kenali Ciri Akun Instagram Kena Hack

Surel yang dikirimkan, kata dia, akan tetap tersimpan secara online untuk jangka waktu lama. Sama halnya dengan unggahan di media sosial seperti Twitter, Instagram, atau Facebook.

“Jejak digital yang tertinggal akan semakin banyak jika kita berlama-lama di media sosial. Untuk hal sepele seperti menyukai foto atau unggahan status akan tetap tersimpan di server Facebook,” jelasnya.

Sementara jejak pasif merupakan data yang tanpa sadar telah ditinggalkan oleh pengguna internet termasuk riwayat penelusuran web hingga alamat IP. Sebagai contoh alamat IP yang akan mengenali penyedia layanan internet (internet service provider/ ISP) hingga lokasi ketika Anda mengakses situs web.

BACA JUGA:   Mengepakkan Sayap Bisnis Melalui Digital Marketing

“Meskipun alamat IP bisa berubah dan tidak menyertakan informasi pribadi, namun tetap dianggap sebagai bagian dari jejak digital,” tuturnya.

Rakhmad mengatakan, jejak digital sebenarnya bukan hal yang perlu dikhawatirkan karena dimiliki oleh semua orang yang pernah mengakses internet.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital

merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Pornografi Merusak Otak, Begini Dampaknya

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).