Harga Tiket Pesawat Mahal, Kemenparekraf Lakukan Dua Pendekatan Ini

Tuesday, 21 June 22 Bonita Ningsih
Garuda Indonesia

Tingginya harga tiket pesawat untuk perjalanan domestik maupun internasional disikapi dengan bijak oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno. Menurutnya, kenaikan harga tiket pesawat tidak lepas dari fenomena revenge travel atau bisa disebut wisata balas dendam.

Revenge travel merupakan kondisi di mana tingginya antusiasme wisatawan untuk berlibur setelah dua tahun tertahan pandemi COVID-19. Beberapa faktor lainnya yang mengakibatkan tingginya harga tiket pesawat adalah harga avtur serta proses revitalisasi yang tengah dilakukan sejumlah maskapai penerbangan lokal sehingga jumlah penerbangan yang ditawarkan terbatas.

Untuk menyikapi isu tersebut, Sandiaga, telah menyiapkan dua pendekatan di dalamnya yaitu dari sisi suplai dan subdisi silang. Dari segi suplai, Kemenparekraf, meminta para pengelola maskapai baik dari domestik maupun internasional untuk menambah jumlah pesawatnya.

BACA JUGA:   Kemenparekraf Akan Salurkan BPUP Untuk 550 Usaha Pariwisata Pada 17 Desember 2021

“Saya juga sudah minta kepada tim terkait untuk menambah perjanjian kerja sama kepada maskapai penerbangan agar dapat meningkatkan jumlah penerbangannya. Kami juga sudah diskusi dan komunikasi dengan Menteri Perhubungan agar isu ini dapat ditindaklanjuti di tingkat  teknis,” ujar Sandiaga saat Weekly Press Briefing Kemenparekraf secara hybrid pada 20 Juni 2022.

Sementara itu, subsidi silang yang akan ditawarkan Kemenparekraf berupa paket wisata lengkap yang dilakukan oleh pengelola event di destinasi wisata. Skemanya adalah dengan menawarkan paket wisata lengkap mulai dari tiket pesawat, hotel, akomodasi, destinasi, serta akses masuk ke event.  

BACA JUGA:   Digital Nomad Berpotensi Bangkitkan Sektor Perhotelan

“Subsidi silang yang saya maksud itu bukan untuk menaikkan kelas bisnis atau ekonomi, karena itu pasti sangat sulit. Karena saya kebetulan pernah punya pengalaman untuk mengolah bisnis penerbangan,” ucapnya lagi.

Menurut Sandiaga, pendekatan subsidi silang akan melibatkan banyak pihak mulai dari pengelola tempat wisata, penyelenggara event, operator pesawat, hotel, dan lainnya. Pihak-pihak tersebut diharapkan dapat melakukan kerja sama untuk menawarkan paket wisata dengan harga yang lebih terjangkau.

“Kita ingin mengarahkan bagaimana event­-event di daerah bisa di-bundling harganya di dalam sebuah paket perjalanan. Para penyelenggara event dapat bekerja sama dengan perusahaan besar agar dapat melakukan subdisi silang,” kata Sandiaga.

BACA JUGA:   Pelaku Perjalanan Luar Negeri Bebas Karantina ke Bali, Batam, dan Bintan

Dengan adanya subsidi silang ini, Sandiaga, berharap industri pariwisata termasuk penerbangan dapat kembali bangkit. Dia menilai, industri penerbangan pernah berada di titik terendahnya selama dua tahun ini akibat pandemi COVID-19.

“Industri penerbangan ini sangat kasihan keadaannya selama dua tahun ini karena banyak sekali pekerja yang harus dirumahkan. Makanya, saat ini kita tawarkan paket wisata secara keseluruhan,” Sandiaga menambahkan.