Jumlah Kunjungan Wisatawan Mancanegara pada 2017 Hanya 14,04 Juta

Monday, 05 February 18   41 Views   0 Comments   Harry Purnama
Wisman Cina di Pantai Jimbaran, Bali
Wisman Cina di Pantai Jimbaran, Bali. Foto: Venuemagz/Erwin

Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengeluarkan data jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sepanjang 2017. Dari target jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang ditetapkan sebesar 15 juta kunjungan pada 2017, ternyata jumlah yang tercapai hanya 14,04 juta wisman.

Suhariyanto, Kepala BPS, mengatakan, jika Gunung Agung Bali tidak erupsi pada 27 September 2017 dan tidak ada penutupan Bandara Ngurah Rai Bali selama dua hari, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara bisa jadi tercapai. Penutupan Bandara Ngurah Rai Bali memang membuat wisatawan “trauma” berkunjung ke Pulau Dewata itu. Setiap hari Bali dikunjungi 15.000 wisman, maka selama dua hari itu ada 30.000 wisman yang tidak bisa masuk ke Bali. Selain itu, dampak dari pembatalan pesawat itu cukup panjang, hingga lebih dari tiga bulan belum normal.

Dampaknya adalah wisman memindahkan tripnya ke negara lain. Tidak ada yang bisa meyakinkan bahwa saat itu Gunung Agung sudah benar-benar aman. Status gunung masih “awas” hingga tiga bulan.

Akibat letusan itu, lebih dari 10 negara mengeluarkan travel warning bagi warganya untuk berwisata ke Indonesia, terutama Bali. Dampaknya, wisatawan yang hendak ke Bali tidak berani datang, sebab jika terjadi sesuatu, asuransi perjalanan mereka tidak berlaku karena sudah ada travel advice dari negara yang bersangkutan.

Yang terpenting, erupsi Gunung Agung terjadi di saat peak season, tepatnya di akhir 2017. Inilah yang membuat potential losses-nya menjadi lebih besar. Jika rata-rata per hari Bali dikunjungi 15.000 wisman, maka di peak season bisa mencapai 20.000 wisman per hari.

Hingga dua bulan sejak erupsi, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara Cina yang berwisata ke Bali masih kosong, sebab pemerintah Cina memang mengeluarkan travel advice untuk warganya ke Bali. Wisatawan Cina itu dikenal sangat patuh dengan peringatan yang diberikan oleh negaranya.

Bali menyumbang 40 persen pintu masuk kedatangan wisman ke Indonesia. Begitu Bali terganggu, maka secara otomatis akan banyak berdampak pada jumlah wisman ke Indonesia. “Bahkan, dampak Bali yang terkena erupsi itu juga berpengaruh secara nasional di tanah air. Sebab, banyak penerbangan yang mendarat di Jakarta, Manado, Surabaya, dan Medan yang tujuan akhirnya Bali. Karena itu, begitu Bali ditutup, maka ke kota lainnya itu juga ikut turun,” kata Arief Yahya, Menteri Pariwisata Republik Indonesia.

“Itulah mengapa saya harus ke Beijing, melakukan gathering bersama 400 travel agents dan media di Beijing. Lalu bertemu CNTA (China National Tourist Administration) di Chiang Mai, Thailand. Saya jelaskan bahwa Bali normal. Hampir semua wisatawan, termasuk yang berasal dari Australia, sudah betul-betul pulih,” kata Arief Yahya.

Usaha Arief Yahya tidak berhenti sampai di situ. Ia melobi media-media digital seperti Baidu untuk merilis bahwa Bali sudah normal. “Kami juga sudah menjalin kerja sama dengan Konjen Cina di Bali untuk mengundang wisman Cina di Imlek 2018, yang jatuh pada 16 Februari 2018,” ujar Arief Yahya.

Angka 14 juta wisman itu, menurut Arief Yahya, sudah lumayan bagus karena dampaknya sangat meluas dan besar bagi industri pariwisata.

Titi Kanti Lestari, Direktur Statistik KTIP Badan Pusat Statistik, mengatakan, turunnya dominasi turis asal Cina ke Indonesia dikarenakan imbauan dari pemerintahnya untuk tidak berkunjung ke Bali akibat letusan itu sehingga turis asal Singapura yang dekat dengan Batam naik di posisi pertama.