“Event-event pariwisata yang ada di berbagai daerah juga sudah diisi oleh berbagai parade budaya, dengan presentasi 50 persen dibanding event lainnya,” ujarnya lagi.
Kendati sudah memiliki modal dalam segi wisatanya, pemerintah Indonesia masih belum paham bagaimana cara memasarkan pariwisata secara tepat. Beberapa wisata premium seperti resor-resor mewah di kawasan terpencil di Indonesia saat ini masih dikuasai oleh asing.
“Padahal, di Indonesia sudah banyak sekali perusahaan penerbangan sewa pribadi atau charter-an yang bisa menjangkau destinasi-destinasi eksotik tersebut, khususnya yang memiliki target turis mancanegara berkantong tebal,” ucapnya lagi.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Denon Prawiraatmadja, Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA). Denon menjelaskan, dari 30 total anggota INACA, sebagian besar diisi oleh perusahaan berbasis sewaan atau charter. Ditambah dengan adanya 32 bandara internasional, semakin memudahkan Indonesia untuk mewujudkan kebijakan tersebut.
“Jadi, dalam menghadirkan quality tourist tersebut sebenarnya sudah tersedia gerbangnya. Tinggal kita bersama-sama mengolahnya menjadi satu kesatuan yang baik untuk meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia,” ungkap Denon.




