KKP Perkuat Desa Wisata Bahari

Tuesday, 12 May 20 Bonita Ningsih

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi wisata selam cukup besar. Hal ini diperkuat dengan panjang garis pantai yang dimiliki Indonesia mencapai 99.093 km dan luas laut 3,257 juta km persegi. Data tersebut yang disampaikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat Webinar Diskusi Wisata Selam dan Coral Garden melalui aplikasi zoom.

Melihat potensi tersebut, KKP mulai mengembangkan wisata bahari atau wisata selam sebagai salah satu pariwisata yang diunggulkan. KKP mulai membagi lokasi selam di Indonesia ke dalam empat zona, yakni zona inti, pemanfaatan, perikanan berkelanjutan, dan zona lainnya. Setiap zona memiliki fungsinya masing-masing, yakni sebagai penelitian dan pendidikan, pariwisata alam perairan, penangkapan ikan, dan pembudidayaan.

Dalam mengembangkan wisata selam, KKP mulai mengembangkan beberapa atraksi terkait wisata selam. Miftahul Huda, Direktur Jasa Kelautan (Jaskel) Ditjen PRL, menyebutkan, atraksi yang dimiliki Indonesia meliputi Wisata Kapal Tenggelam, Taman Kima, Coral Garden, dan Marine Scaping.

Wisata Kapal Tenggelam bisa dinikmati di perairan Natuna, Tidore, Ambon, Selayar, dan daerah lainnya. Kemudian Taman Kima dapat ditemui di Derawan, Bengkayang, Belitung, dan lainnya. Sedangkan Coral Garden dapat dilihat di Penimbangan Buleleng, Nusa Dua Bali, Gili Gede Lombok, dan Gili Meno.

“Saya rasa, semua orang pasti ada keinginan untuk menyelam sehingga saat ini semuanya sedang kami kembangkan. Untuk beberapa lokasi kapal tenggelam, sudah kita jadikan konservasi di kawasan maritim,” ujar Huda.

Menurut Huda, mengembangkan wisata selam diperlukan sinergitas dari beberapa pihak. Tidak hanya pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah dan masyarakat sekitar melalui desa wisata bahari. Bahkan, Huda menilai, desa wisata bahari memiliki peran yang cukup besar terhadap perkembangan wisata selam di Indonesia.

Keterlibatan masyarakat di desa wisata bahari sangat penting dalam rangka peningkatan atraksi wisata selam. Ia mencontohkan, saat melakukan atraksi di bawah laut untuk pengenalan Coral Garden, diperlukan peran masyarakat di dalamnya.

“Masyarakat di sini juga sebagai pihak pengelola wisata selam di daerahnya. Mereka semua harus tanggung jawab terhadap wisata selam yang ada karena mereka akan menjadi orang pertama yang merasakan dampak positif dari wisata ini,” jelasnya lagi.

Oleh karenanya, diperlukan peningkatan kemampuan bagi setiap masyarakat dan pengelola yang berada di desa wisata bahari. Dalam hal ini, KKP menyediakan fasilitas berupa pusat edukasi yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia.

Ia mengungkapkan tempat ini dijadikan sebagai wadah diskusi dan pendampingan bagi masyarakat sekitar sana. KKP juga memberikan bimbingan teknis pengelolaan wisata dan pelatihan selam bagi pengelola desa wisata bahari.

“Pelatihan selam ini bekerja sama dengan beberapa pihak, seperti P3B, Dinas Pariwisata, POSSI, dan lainnya. Jenis pelatihannya ada yang pemula, advance, dan rescue,” ungkap Huda.

Huda mengatakan, pelaksanaan desa wisata bahari dapat dilihat di daerah Pemuteran Buleleng Bali. KKP bersinergi dengan beberapa pihak membangun desa wisata bahari ini dan melaksanakan berbagai kegiatan di dalamnya. Beberapa hal yang dilakukan ialah pemantauan Coral Garden, eduwisata dalam mengadopsi karang, hingga melaksanakan Festival Pemuteran setiap tahunnya.

Lebih lanjut Huda mengatakan, desa wisata bahari akan terus diberdayakan selama program pengembangan wisata selam ini digalakkan KKP. Bahkan, KKP menargetkan akan membentuk 500 desa wisata bahari dalam lima tahun mendatang.

“Kami sudah mulai membuat segi anggaran dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan di desa tersebut. Kami berharap ini bisa dilakukan secepatnya dan kami juga berharap akan ada bantuan dana dari DPR terkait hal ini,” ucapnya lagi.