Lebaran Menjadi Momen Meningkatkan Pergerakan Wisatawan Nusantara

Tuesday, 05 March 24 Khanisa Azahra

Ramadan identik dengan pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga besar. Momen pulang kampung ini tentunya menjadi salah satu faktor bertumbuhnya pergerakan wisatawan nusantara yang pada tahun ini ditargetkan mencapai 1,25 miliar-1,5 miliar pergerakan.

Berdasarkan data Korlantas (Korps Lalu Lintas) Polri, jumlah pemudik 2024 diperkirakan mencapai 200 juta atau naik 6% dibanding tahun lalu sebanyak 180 juta. Kenaikan tak hanya lewat jalur darat, maskapai Garuda selaku penyedia jasa penerbangan juga memproyeksikan peningkatan hingga 30% dari hari-hari normal.

Untuk memberi kenyamanan para pemudik, pemerintah menyiapkan berbagai hal terkait transportasi guna mengantisipasi peningkatan jumlah pemudik. Misalnya, Garuda Indonesia menambah frekuensi penerbangan ke sejumlah daerah untuk melayani lonjakan pemudik. Begitu juga halnya yang dilakukan oleh PT KAI.

BACA JUGA:   Persiapan Menyambut Lonjakan Wisatawan Saat Libur Panjang Idul Adha 2024

Menteri Perhubungan Budi Karya menegaskan, kementeriannya telah melaksanakan koordinasi lintas sektoral guna persiapan infrastruktur dan transportasi menjelang Lebaran. Selain itu, dilakukan pula antisipasi bersama Pemda, Kepolisian, BUMN, dan Kemen PUPR agar proses mudik maksimal dan berjalan lancar.

Promo Hotel

Terkait akomodasi, Ketua PHRI Hariyadi Sukamdani memperkirakan tingkat hunian hotel selama Lebaran 2024 akan tinggi. Hal ini didasari perkiraan kondisi perhotelan secara keseluruhan pada 2024 yang terus membaik pasca-pandemi.

Data PHRI menunjukkan bahwa hunian hotel di destinasi favorit seperti Yogyakarta, Malang, dan Bandung sudah lebih dari 70% menjelang Lebaran 2024. Namun, di sisi lain, hotel-hotel di Jakarta dan sejumlah kota besar justru mengalami penurunan okupansi. Hal tersebut disebabkan oleh turunnya kunjungan wisatawan mancanegara dan berkurangnya pergerakan wisnus selama Ramadan.

BACA JUGA:   Perempuan Pengusaha Didorong Kembangkan Ekspor

Untuk itu, hotel-hotel di Jakarta mulai menawarkan paket dan diskon menarik guna meningkatkan okupansi. Selain itu, penawaran aktivitas Ramadhan seperti buka puasa dan sahur bersama juga ditawarkan sebagai daya tarik.

Oleh karena itu, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama Kemenparekraf Nia Niscaya mendorong agar pelaku perhotelan menyediakan diskon kamar hingga 40 persen dan paket-paket diskon lainnya, seperti paket berbuka bersama di hotel, sehingga okupansi kamar hotel bisa tetap terisi meskipun tengah menghadapi low season.

“Ketika low season, ada baiknya jika dapat menjual dengan diskon besar-besaran hingga 40 persen. Itu jauh lebih menguntungkan jika okupansinya hanya 30 persen karena masyarakat Indonesia yang beragama Islam dan berpuasa tidak melakukan kegiatan traveling saat puasa,” kata Nia.