Usai menonton pementasan wayang, acara dilanjutkan dengan Helaran yang artinya arak-arakan. Helaran dimainkan untuk mengiringi upacara tradisional khitanan maupun upacara panen padi. Kemudian disusul dengan persembahan tari topeng yang dilakukan oleh anak-anak yang tergabung di sanggar Saung Angklung Udjo.
Pertunjukan angklung mini dimainkan oleh anak-anak sanggar dan memainkan sebuah lagu sederhana dari berbagai negara. Kemudian, disusul dengan pengenalan arumba yang merupakan alat musik tradisional dari bambu bertangga nada diatonis.
Selanjutnya merupakan acara yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap tamu yang datang, yakni bermain angklung bersama-sama. Setiap orang diberikan satu buah angklung dengan nada yang berbeda, dan nantinya akan dimainkan secara bersama-sama.
Segmen bermain angklung bersama dipimpin oleh salah satu anak Mang Udjo, yakni Yayan Udjo. Peran Yayan di sini sebagai konduktor yang memimpin pertunjukan musik angklung. Berdiri di tengah panggung sambil memegang angklung, Yayan menjelaskan bagaimana caranya memainkan alat musik ini sehingga menghasilkan nada-nada yang harmonis.
“Angklung memiliki nilai filosofi gotong-royong dan kebersamaan. Dengan memainkan angklung secara bersama-sama, maka akan menghasilkan nada-nada yang harmonis dan dinamis,” kata Yayan sebelum memulai permainan ini.
Beberapa lagu telah berhasil dimainkan oleh Yayan yang dibantu oleh permainan angklung dari para pengunjung yang datang. Permainan ini pun ditutup dengan tepuk tangan yang meriah dari seluruh pengunjung.





