Ia menjelaskan, saat ini potensi pasar domestik terhadap industri sangat besar. Menurut data yang diperoleh, konsumsi fashion muslim di Indonesia mencapai US$21 miliar, dan masuk ke dalam top 3 dunia. Sementara itu, untuk konsumsi fashion muslim dunia mencapai US$283 miliar.
“Kami berterima kasih pada semua pihak yang mendukung penyelenggaraan MUFFEST kali ini. Keberhasilan MUFFEST 2020 menjadi motivasi bagi kami untuk menyelenggarakan MUFFEST selanjutnya agar lebih baik dan inovatif,” jelas Ali.
Besarnya potensi fashion muslim Tanah Air juga diungkapkan oleh Muhammad Khayam, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil, Kementerian Perindustrian RI. Hal ini terlihat dari jumlah ekspor fashion Indonesia yang selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Menurut data yang diperoleh, selama 2019, ekspor fashion Indonesia mencapai US$13,42 miliar dengan US$383 juta diekspor ke negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Menurutnya, di antara seluruh anggota OKI, Indonesia berada pada urutan keempat sebagai eksportir fashion terbesar.
“Kekayaan alam dan dukungan industri hulu tekstil juga menjadi modal paling besar di industri ini. Dengan didukung oleh kreativitas dan inovasi para desainer, karya-karya kita akan semakin diakui dunia internasional,” ucap Khayam.
Secara terperinci Khayam mengatakan bahwa laju pertumbuhan industri pakaian di Indonesia juga ikut meningkat dan mencapai 15,35 persen pada tahun 2019. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dianggap mampu menjadi penghasil devisa cukup besar dan termasuk sektor padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja 3,73 juta orang.






