Haryadi melihat nantinya yang paling cepat melakukan pemulihan adalah negara berkembang karena lebih negara berkembang lebih memiliki keberanian untuk memulai dibanding negara maju yang banyak pertimbangan.
“Jadi kita lebih berani untuk memulai dulu. Indonesia dan negara-negara di Asia yang akan recovery lebih dahulu. Dan menurut pandangan kami, kita akan mempunyai tatanan baru yang lebih baik lagi. Dan jangan lupa juga dengan populasi yang besar ini masih sangat besar potensinya untuk menggerakkan industri pariwisata, termasuk MICE di dalamnya,” jelasnya.
Untuk pemulihan setelah badai krisis, menurut Haryadi yang paling penting dilakukan oleh pemerintah adalah melalui stimulus. Langkah berikutnya adalah menurunkan harga tiket agar orang-orang mau bepergian dengan frekuensi yang lebih tinggi.
Hendra Noor Saleh, Presiden Direktur Dyandra Promosindo, optimistis Dyandra Promosindo mampu menghadapi badai krisis ini karena memiliki pengalaman selama 26 tahun dan pernah menghadapi berbagai macam krisis, seperti krisis moneter. Hendra juga yakin industri MICE di Indonesia akan segera bangkit usai krisis berlalu dan akan bisa masuk kelompok 10 besar, tentunya dengan dukungan penuh dari pemerintah yang nyata, mulai dari sisi transportasi, perizinan, pajak, bahkan sampai dengan insentif bagi hotel dan lain sebagainya.
“Kalau ada dukungan semacam itu, saya optimistis dalam waktu 2-3 tahun Indonesia bisa masuk 10 besar,” jelasnya.





