Kecanduan Gawai, Begini Gejalanya

Tuesday, 14 September 21 Venue

Saat ini, gawai merupakan alat komunikasi yang banyak digunakan di seluruh dunia. Menurut Tenaga Ahli DPR RI Stephanie Olivia, sifatnya yang multifungsi menjadikan gawai diperlukan oleh banyak orang, bahkan sebagian ada yang tidak bisa lepas darinya.

“Banyak orang menggunakan gawai secara berlebihan dan cenderung mengalami kecanduan. Padahal, kecanduan gawai memiliki beberapa efek negatif bagi kesehatan mental seseorang,” kata dia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (13/9/2021).

Menurutnya, kecanduan gawai biasanya dialami oleh orang-orang yang memasuki masa remaja. Penggunaan gawai mencapai puncaknya selama masa remaja dan secara bertahap menurun setelahnya. Penggunaan gawai yang berlebihan di kalangan remaja sangat umum sehingga 33% anak berusia 13 tahun tidak pernah mematikan gawai mereka, siang atau malam.

BACA JUGA:   Hindari Risiko Keamanan di Platform Digital, Ini Tipsnya

“Semakin muda usia anak terpapar gawai, semakin besar risiko penyalahgunaan gawai. Gejala kecanduan gawai,” ujar Stephanie. Menurut dia, terdapat beberapa gejala yang tampak ketika seseorang mengalami kecanduan gawai. Beberapa tandanya antara lain:

  • Meraih gawai saat sendirian atau bosan.
  • Bangun beberapa kali di malam hari untuk memeriksa gawai.
  • Merasa cemas, kesal, dan cepat marah ketika jauh dari gawai.
  • Menghabiskan banyak waktu di depan gawai.
  • Mengganggu pekerjaan, tugas sekolah, dan hubungan dengan orang di sekitar.
  • Gampang kambuh ketika mencoba membatasi penggunaan.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan, tantangan di ruang digital semakin besar, konten-konten negatif terus bermunculan dan kejahatan di ruang digital terus meningkat. “Menjadi kewajiban kita bersama untuk meningkatkan kecakapan digital masyarakat melalui literasi digital,” kata dia saat membuka program literasi digital nasional dengan tajuk Indonesia Makin Cakap Digital, beberapa waktu lalu.

BACA JUGA:   Perhatikan Etika Komunikasi di Media Sosial

Konten-konten negatif yang marak muncul di ruang digital, kata Presiden, seperti hoaks, penipuan daring, perjudian daring, eksploitasi seksual pada anak, perundungan siber, ujaran kebencian, hingga radikalisme berbasis digital. “Hal-hal itu perlu diwaspadai karena mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan literasi digital kita minimalkan konten negatif dan membanjiri ruang digital dengan konten positif.”

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Mengubah Mindset Menjadi Wirausaha Digital

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).