BerandaLiterasi DigitalPendidikan Jarak Jauh, Seperti Ini Hambatannya

Pendidikan Jarak Jauh, Seperti Ini Hambatannya

Published on

spot_img

Dampak Covid-19 pada pendidikan dapat dilihat dari dilaksanakannya Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) pada setiap jenjang pendidikan. Berdasarkan Undang-Undang Perguruan Tinggi Nomor 12 tahun 2012, pasal 31 tentang Pendidikan Jarak Jauh (PJJ), menjelaskan PJJ merupakan proses belajar mengajar yang dilakukan secara jarak jauh melalui penggunaan berbagai media komunikasi.

“Hal ini bertujuan untuk melindungi para peserta didik supaya terhindar dari penularan Covid-19,” kata Eflina N. F. Mona, Profesional MC & Lecturer Public Relations Binus University, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Senin (27/9/2021).

Penerapan sistem belajar ini, kata dia, dianggap sebagai solusi yang efektif untuk menggantikan sistem belajar tatap muka di kondisi sekarang. Meskipun sudah ada kebijakan new normal, tetapi masih banyak institusi pendidikan yang masih menerapkan sistem ini karena melihat angka kasus covid-19 yang kian bertambah.

“Namun, pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran via daring ini, mempunyai kekurangan karena untuk sebagian orang hal ini memang bukan suatu masalah, tetapi untuk sebagian lainnya, hal ini merupakan sesuatu yang baru,” ujar Eflina.

BACA JUGA:  Ragam Aplikasi Pilihan Belajar Online

Kekurangan dalam pelaksanaan PJJ ini, kata dia, banyak dirasakan oleh para pelajar. Kekurangan dari PJJ ini dapat terjadi dikarenakan latar belakang ekonomi ataupun perbedaan yang dirasa tidak sebanding dengan pembelajaran tatap muka.

Eflina mengatakan, terdapat beberapa hal yang menjadi hambatan atau kekurangan dari dilaksanakannya PJJ, di antaranya:

  • Kendala dalam sinyal, tidak semua daerah mempunyai jaringan internet yang stabil dan beberapa daerah di Indonesia masih ada yang belum terjangkau akses internet. Sehingga untuk beberapa orang kesulitan untuk mengaksesnya dan tak jarang ketika melakukan pertemuan via daring sering kali menjadi terputus-putus karena kendala sinyal.
  • Sarana dan prasarana yang kurang memadai, keadaan ekonomi setiap orang tidak dapat disamaratakan, ada beberapa peserta didik yang bahkan tidak mempunyai sarana dan prasarana yang menunjang terlaksananya PJJ, seperti laptop atau gawai dan kuota yang mencukupi.
  • Banyaknya tugas yang diberikan oleh para pengajar, tugas-tugas yang diberikan ini dirasa sangat membebani, sehingga banyak siswa ataupun mahasiswa yang mengeluhkan hal ini, tugas kelompok pun menjadi sebuah tantangan untuk dilakukan karena tidak bisa berdikusi dengan teman-temannya secara langsung.
  • Pemahaman terhadap materi yang disampaikan oleh pengajar pun belum tentu dapat terserap dengan baik oleh semua peserta didik. Entah itu karena kendala sinyal yang tidak stabil saat guru atau dosen menjelaskan sehingga penjelasan tidak sepenuhnya terdengar ataupun keadaan rumah yang memang kurang mendukung untuk melakukan kegiatan belajar.
  • Para pelajar merasa jenuh dan bosan karena tidak dapat bertemu dan berinteraksi secara langsung dengan teman-temannya. Apalagi bagi para siswa kelas 1 jenjang sekolah dasar hingga menengah atas dan mahasiswa baru yang harus berkenalan dengan kawan barunya via daring.
BACA JUGA:  Tantangan dan Peluang Pembelajaran Jarak Jauh

Ia mengungkapkan, meski terdapat kekurangan dari sitem PJJ di tengah pandemi seperti sekarang, hal ini tidak boleh menjadi suatu penghalang untuk melaksanakan proses belajar mengajar. Karena walau bagaimanapun pendidikan tidak boleh dihentikan.

“Diharapkan juga, di kondisi seperti ini, semua orang dapat selalu mematuhi aturan-aturan yang ditetapkan di keadaan pandemi seperti ini, supaya pandemi Covid-19 dapat segera berakhir dan kehidupan dapat kembali seperti semula,” harapnya.

BACA JUGA:  Ragam Perilaku Tanda Kecanduan Media Sosial

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 -untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).

Pariwisata Indonesia Tetap Tumbuh Positif di Tengah Isu Geopolitik

Jakarta, Venuemagz.com - Sektor pariwisata Indonesia membuka lembaran tahun 2026 dengan catatan impresif. Memasuki...

myBCA International Java Jazz Festival 2026 Siapkan Layanan Shuttle di Jakarta dan Bandung

Kabupaten Tangerang, Venuemagz.com - Perhelatan myBCA International Java Jazz Festival 2026 sudah di depan...

Epson Asia Tenggara Membuka Pendaftaran untuk The 17th Epson International Pano Awards 2026

Epson mengumumkan pembukaan pendaftaran untuk Epson International Pano Awards ke-17, sebuah kompetisi terbesar di...

Pesawat Scoot Kembali Mendarat ke Belitung, Tandai Kebangkitan Pariwisata KEK Tanjung Kelayang

Belitung, Venuemagz.com - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Kelayang mulai mengepakan sayapnya sebagai salah...

Pariwisata Indonesia Tetap Tumbuh Positif di Tengah Isu Geopolitik

Jakarta, Venuemagz.com - Sektor pariwisata Indonesia membuka lembaran tahun 2026 dengan catatan impresif. Memasuki...

myBCA International Java Jazz Festival 2026 Siapkan Layanan Shuttle di Jakarta dan Bandung

Kabupaten Tangerang, Venuemagz.com - Perhelatan myBCA International Java Jazz Festival 2026 sudah di depan...

Epson Asia Tenggara Membuka Pendaftaran untuk The 17th Epson International Pano Awards 2026

Epson mengumumkan pembukaan pendaftaran untuk Epson International Pano Awards ke-17, sebuah kompetisi terbesar di...