Program Desa Wisata Diharapkan Jadi Pandemic Winner

Wednesday, 07 April 21 Bonita Ningsih
Desa Wisata

Program desa wisata yang menjadi unggulan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) diharapkan dapat menjadi pandemic winner pasca-COVID-19. Hal ini sejalan dengan perubahan tren wisata pasca-pandemi yang lebih mengutamakan rasa aman, nyaman, bersih, sehat, dan keberlanjutan lingkungan.

Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menjelaskan bahwa segmentasi pariwisata pasca-pandemi akan lebih personalize, customize, localize, dan smaller in size. Menurut Sandiaga, keempat konsep tersebut sangat cocok dan dapat diterapkan di desa wisata seluruh Indonesia.

BACA JUGA:   Desa Wisata, Pelengkap Wisata di Candi Borobudur

Personalized artinya wisatawan lebih memilih jenis wisata pribadi atau hanya dalam lingkup keluarga saja. Lalu, customize diartikan dengan berwisata dengan minat khusus, seperti wisata berbasis alam.

Kemudian localize dapat diartikan bahwa wisatawan tidak akan memilih destinasi yang jaraknya terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Sedangkan, smaller in size adalah pariwisata dengan jumlah pengunjung di setiap destinasi wisata yang tidak terlalu masif.

“Saya yakin pasca-pandemi kunjungan ke desa wisata akan meningkat. Wisatawan akan lebih memilih destinasi ke tempat terbuka, dan salah satunya ada di desa wisata,” kata Sandiaga.

BACA JUGA:   Pelaku Ekraf di Desa Wisata Diminta Untuk Melek Digitalisasi

Dengan potensi tersebut, Sandiaga berharap agar pengelola desa wisata dapat mempersiapkan diri lebih baik untuk menyambut wisatawan pasca-pandemi. Selain dengan meningkatkan kemampuan yang ada, pengelola desa wisata juga diminta untuk lebih memahami penerapan protokol yang ketat dan disiplin.

Tak hanya itu, Kemenparekraf juga berkomitmen akan memberikan pendampingan dan pengarahan kepada pengelola desa wisata saat menjalankan tugasnya. Kemenparekraf juga akan menghadirkan travel pattern untuk memberikan pengalaman yang lebih baik bagi wisatawan sehingga mereka dapat meningkatkan periode tinggal di desa wisata.

BACA JUGA:   ASTINDO Sebut COVID-19 Berdampak Paling Parah

“Pendekatan big data juga diperlukan di sini dengan menggunakan media sosial sebagai alatnya. Hal ini untuk menangkap minat dari masyarakat dalam melakukan perjalanan wisata,” ucap Sandiaga.