“Untuk bulan Maret 2020 ini masih sedang tahap penghitungan. Nanti akan kembali kami share,” ujar Shana Fatina, Presiden Direktur BOP Labuan Bajo.
Menurunnya jumlah kedatangan di Bandara Komodo juga berakibat buruk terhadap bisnis hotel di Labuan Bajo. BOP Labuan Bajo mencatat, selama Maret 2020 okupansi atau tingkat hunian hotel di Labuan Bajo hanya di angka 15 hingga 20 persen saja.
Penurunan jumlah wisatawan di sana paling besar dirasakan saat Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dulla, mengeluarkan surat edaran yang melarang wisatawan asal China masuk ke Kabupaten Manggarai Barat. Hal tersebut tentu merugikan pariwisata di Labuan Bajo lantaran mayoritas yang datang ke sana ialah wisatawan mancanegara. Belum lagi dengan penutupan akses penerbangan dari beberapa negara dunia, membuat warganya tidak dapat bepergian selama pandemi global ini berlangsung.
Hal ini juga dibenarkan oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Kabupaten Manggarai Barat, Silvester Wangge, seperti yang dikutip dari antaranews. Ia mengatakan, semenjak wabah virus COVID-19 hadir di beberapa negara dunia, banyak paket perjalanan wisata ke Labuan Bajo yang dibatalkan. Akibatnya, hotel-hotel yang berada di sana pun terkena dampak dari pembatalan tersebut.
Silvester menjelaskan, saat ini Labuan Bajo memiliki 102 kamar hotel, baik kecil maupun bintang lima, yang tidak terisi oleh wisatawan. Bahkan, seluruh restoran yang ada di sana tutup sementara mengikuti imbauan pemerintah untuk meniadakan aktivitas yang melibatkan banyak orang.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Manggarai mengambil kebijakan untuk membebaskan biaya retribusi bagi semua hotel dan restoran di Labuan Bajo. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kompensasi yang dialami sektor hotel dan restoran akibat COVID-19.
“Dalam kondisi seperti ini, pembebasan retribusi ini memang sangat membantu kami agar usaha pariwisata di sini tetap bertahan di masa sulit seperti ini,” ujar Silvester.





