Trend Wisata Hidden Gems Menjadi Primadona

Friday, 03 May 24 Bonita Ningsih
desa wisata pentagen Taman Pertiwi

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang memiliki trend silih berganti setiap tahunnya. Kali ini, hidden gems menjadi salah satu trend wisata yang tengah digemari oleh masyarakat Indonesia.

Hidden gems is the new primadona mulai dari destinasi hingga restoran baru. Biasanya anak-anak muda yang mendapatkannya,” kata Adyatama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Nia Niscaya, dalam dialog bersama Himpunan Anak Media (HAM) di Mangkuluhur ARTOTEL Suites, Jakarta, beberapa waktu silam.

Pernyataan tersebut sejalan dengan survei yang dilakukan Inventure-Alvara pada tahun 2023. Survei tersebut menunjukkan bahwa 81 persen responden lebih memilih destinasi yang cukup ‘tersembunyi’ dan jarang diketahui dibandingkan dengan destinasi yang masal. Dengan demikian, minat wisatawan terhadap tempat yang dianggap hidden gems tergolong tinggi.

BACA JUGA:   Poltekpar Siap Ciptakan SDM Pariwisata yang Berdaya Saing Internasional

Dalam bahasa inggris, hidden gems memiliki arti sebagai permata tersembunyi. Namun, dalam pariwisata, frase ini kerap merujuk pada suatu tempat seperti destinasi hingga kuliner yang berpotensi namun masih banyak orang yang belum mengetahuinya.

Istilah ini berawal dari tipe wisatawan yang gemar eksplorasi dan didukung oleh kemajuan teknologi. Mereka biasanya mengeksplor tempat-tempat yang tersembunyi dengan tujuan untuk menginformasikan ke khalayak luas hingga viral. 

“Banyak tempat wisata yang hidden gems itu saya dapatkan saat membuka instagram. Banyak informasi yang bisa saya dapatkan dan saya sempat kaget kalau ternyata di Sentul banyak tempat baru yang belum banyak orang tahu,” cerita Nia.

BACA JUGA:   Kopdarnas EL Preneur 2018: Peserta Diajak Belajar, Berbisnis, dan Menolong Korban Gempa

Nia mengakui, penyebaran tempat-tempat wisata memang lebih mudah jika dibandingkan dengan produk ekonomi kreatif (ekraf). Menurutnya, untuk mempopulerkan pariwisata tidak memerlukan riset seperti yang dibutuhkan oleh produk ekraf.

“Pariwisata tidak harus riset, ketika orang menemukan dan viral yaudah deh jadi ramai. Kalau ekraf biasanya berangkat dari riset dan inovasi,” Nia menambahkan.

Lebih lanjut ia mengatakan, tempat-tempat yang dijuluki hidden gems sebenarnya memiliki potensi menjadi besar dan terkenal. Tidak selalu harus pedesaan atau alam, tetapi di kota juga bisa menjadi hidden gems karena masih banyak orang yang belum tahu. Hidden gems sendiri bisa merujuk kepada lokasi, budaya, kuliner, hingga bangunan heritage.

BACA JUGA:   Dampak Negatif Ketergantungan Bali Terhadap Pariwisata

“Oleh sebabnya, hidden gems dalam dunia pariwisata ini merujuk pada potensi pariwisata, belum menjadi objek wisata,” dia menambahkan.