Kemendikdasmen: Dari Study Tour Menuju Wisata Bermakna
Dari dunia pendidikan, Dra. Ninik Purwaning Setyorini, M.A. dari Direktorat Sekolah Menengah Pertama, mewakili Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikdasmen, memaparkan pergeseran paradigma dari Study Tour menuju “Wisata Bermakna”. Bukan lagi sekadar perjalanan sebagai tujuan, rekreasi, dan pulang membawa kenangan, melainkan pembelajaran sebagai tujuan, belajar melalui pengalaman autentik, mengamati fenomena, bertanya dan menyelidiki, hingga pulang membawa pemahaman, karya, dan aksi nyata.
Wisata bermakna, jelasnya, dirancang secara utuh melalui tiga tahap: pra-wisata untuk membangun kesiapan belajar, pelaksanaan wisata untuk mengalami dan mengeksplorasi, dan pasca-wisata untuk memaknai serta menghasilkan karya.
“Destinasi menjadi media belajar yang membantu murid memahami dunia melalui pengalaman nyata,” ujarnya.
IFG: Program Berbasis Destinasi yang Hasilnya Bisa Dipertanggungjawabkan Secara Data
Mora Nasution, Kepala Divisi Pembelajaran dan Budaya Perusahaan Indonesia Financial Group (IFG), menegaskan bahwa korporasi modern membutuhkan lebih dari pelatihan konvensional untuk membangun kapasitas SDM-nya. Mereka membutuhkan program Experiential Learning berbasis destinasi yang menempatkan karyawan langsung di tengah masyarakat.
Melalui program Kindness to Progress, IFG mengirim karyawannya ke Desa Ngabab untuk merancang dan mengeksekusi proyek sosial nyata: dari edukasi parenting dan gizi untuk mencegah stunting, pemberdayaan petani yang kelebihan panen, hingga pengembangan kerajinan batik lokal. Program ini menjangkau satu pedukuhan, tiga RW, dan empat komunitas, dengan lebih dari 9.000 penerima manfaat tidak langsung dan lebih dari 80 penerima manfaat langsung.
Yang membuat program ini berbeda adalah hasilnya yang terukur. Skor karakter AKHLAK peserta, mencakup Amanah, Harmonis, Adaptif, dan Kolaboratif, meningkat signifikan setelah program, baik dari penilaian diri sendiri maupun penilaian rekan kerja. Perilaku prososial peserta pun meningkat di seluruh indikator yang diukur.
“Program berbasis destinasi seperti ini bukan sekadar kegiatan sosial seremonial, tapi strategi pengembangan SDM yang hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara data,” tegas Mora.






