WGC: Setiap Destinasi Menyimpan Konteks Unik untuk Membangun Kapasitas SDM
Dian Wibowo Utomo, S.Psi., M.Pd., Founder Wit Gedhang Consulturement (WGC) dan Praktisi Experiential Learning anggota AELI, membuktikan bahwa program berbasis destinasi yang dirancang dengan metode Experiential Learning bisa menjadi strategi nyata peningkatan kapasitas SDM, bukan sekadar wisata rekreatif.
Melalui program BYP (Borobudur-Yogyakarta-Prambanan), salah satu dari 10 Destinasi Pariwisata Prioritas nasional, beliau memaparkan model DBP yang efektif mengintegrasikan empat komponen: konteks destinasi yang dipahami secara mendalam, pengalaman inti yang menghadirkan kontak langsung dengan esensi destinasi, fasilitasi refleksi yang mengolah pengalaman menjadi wawasan, dan aksi lanjutan yang memastikan pembelajaran diterapkan setelah program berakhir. Seluruh rancangan ini berpijak pada Siklus Kolb, kerangka akademis yang sudah lama menjadi fondasi metode Experiential Learning.
“Program ini bukan hanya sekadar melihat-lihat, tapi menumbuhkan kemanusiaan kita,” ujarnya.
Sebuah Gerakan Mendapat Namanya
Dalam pidato penutup, Ketua Umum DPP AELI, Gigih Gesang, menarik benang merah dari seluruh rangkaian hari ini dan menegaskan sesuatu yang selama ini belum pernah diucapkan secara resmi di hadapan publik lintas sektor.
“Apa yang kita dengar hari ini bukan sekumpulan pemikiran yang kebetulan beririsan. Ia adalah satu kerangka. Dan kerangka itu punya nama,” ujar Gigih.
Nama itu adalah Destination-Based Exploration (DBE). DBE adalah pendekatan yang menjadikan karakter unik sebuah destinasi, alam, budaya, sejarah, dan kearifan lokalnya, sebagai sumber pengalaman belajar yang dirancang secara sengaja. Bukan program generik yang bisa dipindah-pindah ke mana saja, melainkan pengalaman yang hanya bisa lahir dari satu tempat itu.
“DBE bukan sesuatu yang baru kita temukan kemarin sore. Praktiknya sudah lama hidup di Indonesia, sebagai Outing, Field Trip, Study Tour. Yang baru adalah keberanian kita untuk memberinya nama, dan memberinya kerangka desain yang sistematis,” ujar Gigih.
Salah satu misi strategis yang diemban AELI melalui kerangka DBE ini adalah membantu provider Experiential Learning yang masih berkembang, termasuk yang beroperasi dalam skala UMKM, untuk naik kelas menjadi penyedia jasa yang berstandar, profesional, dan terverifikasi. Bukan sekadar pelaku industri, tapi arsitek perancang transformasi manusia yang dapat dipertanggungjawabkan kualitas dan keamanannya.
Solusi Sudah Tersedia: INDEX dan Komitmen Bersama
Penamaan saja tidak cukup. Kerangka yang baik butuh infrastruktur yang nyata. Hari ini, infrastruktur itu hadir untuk pertama kalinya. AELI memperkenalkan INDEX (Indonesia Destination-Based Exploration), platform direktori nasional pertama yang menghubungkan provider program DBE yang terverifikasi dengan pengguna jasa dari korporasi, sekolah, lembaga pemerintah, dan komunitas di seluruh Indonesia.
INDEX bukan online travel agent. Ia adalah indeks, menjalankan tiga fungsi utama: Mapping (memetakan program dan destinasi berbasis pengalaman di Indonesia secara sistematis), Connecting (menghubungkan provider, pengguna jasa, destinasi, akademisi, pemerintah, dan mitra strategis dalam satu ekosistem), dan Developing (mendorong pengembangan kualitas program dan kapasitas SDM secara berkelanjutan).
“Selama ini, ribuan program DBE berkualitas tersebar tanpa ada yang menyatukannya. Perusahaan yang ingin mengembangkan timnya melalui pengalaman di destinasi, atau sekolah yang ingin merancang study tour bermakna, mereka tidak tahu ke mana harus mencari. INDEX hadir untuk menjawab itu,” tegas Gigih.
Lebih dari sekadar platform, IELC 2026 juga menghasilkan komitmen konkret. Kementerian Pariwisata RI menyatakan dukungan dan apresiasinya terhadap program unggulan AELI, dan saat ini sedang dirumuskan draf nota kesepahaman (MoU) serta deklarasi bersama antara AELI dan Kementerian Pariwisata RI untuk menyusun roadmap sertifikasi resmi vendor Experiential Learning di Indonesia, sebuah langkah yang akan memberi kepastian standar dan profesionalisme bagi seluruh ekosistem industri ini.
Satu Seruan untuk Semua Pihak
IELC 2026 menutup hari dengan ajakan yang ditujukan ke semua arah: kepada pemerintah untuk mewujudkan mandat UU No. 18/2025 melalui regulasi yang memberi ruang bagi DBE tumbuh; kepada korporasi dan BUMN untuk berani menjadikan destinasi sebagai laboratorium pengembangan SDM, seperti yang sudah dibuktikan IFG melalui Kindness to Progress; kepada akademisi untuk memperkuat kerangka ini dengan riset dan keilmuan; dan kepada seluruh provider dan praktisi Experiential Learning untuk bergabung dalam ekosistem INDEX.
“Hari ini kita telah melangkah bersama, beyond destination, into experience. Melampaui sekadar tempat yang kita kunjungi, menuju pengalaman yang benar-benar membangun kapasitas bangsa,” tutup Gigih Gesang.
Indonesia tidak kekurangan destinasi. Yang selama ini kurang adalah kerangka yang menyatukannya, nama yang mengidentifikasinya, dan rumah yang menghubungkannya dengan mereka yang membutuhkan. Hari ini, ketiganya sudah ada.






