Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect Menjadi Titik Temu Material, Produksi, dan Desain

Friday, 30 January 26 Harry
Peluncuran ifmac woodmac, iffina, interzum jakarta

Jakarta, Venuemagz.com – Industri mebel dan furnitur di Indonesia memegang peranan penting dalam struktur ekonomi nasional serta menyimpan potensi pengembangan yang masih terbuka lebar. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2025 ekspor mebel menempati posisi kedua dalam subsektor kerajinan dengan kontribusi sekitar 12,2 persen.

Capaian ini menegaskan bahwa industri furnitur merupakan sektor bernilai tambah tinggi dan berorientasi pada pasar internasional. Meski demikian, jika dibandingkan dengan nilai pasar furnitur global yang mencapai ratusan miliar dolar AS setiap tahunnya, porsi Indonesia masih belum melampaui satu persen.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa persoalan utama industri furnitur nasional tidak terletak pada besarnya potensi yang dimiliki, melainkan pada keterhubungan rantai nilainya, mulai dari penyediaan material, penerapan teknologi produksi, hingga jalur distribusi menuju pasar global. Meskipun akses ke pasar utama seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur telah tersedia, penguatan masih dibutuhkan, terutama dalam aspek standardisasi, inovasi, efisiensi proses produksi, serta integrasi antar pelaku industri. Hal ini mencakup peran yang lebih aktif dari desainer dan pelaku kreatif dalam keseluruhan ekosistem, dari tahap hulu ke hilir.

BACA JUGA:   Fashion & Cultural Festival 2019 untuk Hargai para Wanita Inspirasional

Dalam upaya penyelarasan tersebut, hadirlah sebuah pameran Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect yang di dalamnya termasuk empat pameran dagang utama di industri furnitur dan mebel. Amara Group dan Koelnmesse GmbH secara kolaboratif menyelenggarakan pameran IFFINA+, interzum jakarta, serta International Hardware Fair Indonesia, dan bersama Wakeni turut menyelenggarakan IFMAC WOODMAC secara bersamaan. Kolaborasi ini menciptakan satu rangkaian pekan industri furnitur yang terkurasi, di mana desainer, produsen, dan pemilik merek dapat terhubung dengan seluruh mata rantai nilai furnitur dalam satu waktu.

BACA JUGA:   Jakarta Tuan Rumah International Faecal Sludge Management Alliance 2021

Pada IFFINA sendiri, sekitar 50 persen peserta berasal dari pelaku UMKM, menegaskan peran penting sektor ini dalam esosistem industri furnitur nasional.

“Penyelarasan ini menyatukan berbagai platform industri utama sesuai dengan cara industri furnitur bekerja saat ini,” ujar Dedy Rochimat, Ketua ASMINDO. “Inisiatif ini mendukung pengembangan bisnis dan perluasan akses pasar melalui platform industri yang menyeluruh dari hulu ke hilir.”

“Konsep co-location dan penyelarasan lintas sektor ini merupakan tonggak penting dalam pengembangan platform industri di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik,” ujar Mathias Küpper, Managing Director dan Regional President Asia Pasifik Koelnmesse Pte Ltd. “Dengan menyatukan material, manufaktur, dan furnitur dalam satu ekosistem yang terkoordinasi, pendekatan ini membuka ruang kolaborasi yang lebih relevan antara desain, industri, dan pasar.”

BACA JUGA:   Indowood Expo 2025 Dorong Kolaborasi dan Daya Saing Industri Kayu

Rangkaian pameran Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect ini akan digelar secara co-located pada 23-27 September 2026 di NICE PIK 2 dan JIExpo Kemayoran, Jakarta, dengan target menghadirkan sekitar 800 exhibitor dan 15.000 pengunjung, serta partisipasi lebih dari 20 negara, termasuk Australia, Kanada, China, Denmark, Finlandia, Prancis, Gabon, Jerman, Hong Kong, Indonesia, India, Italia, Malaysia, Singapura, Slovenia, Korea, Sri Lanka, Switzerland, Taiwan, Thailand, Turki, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat.