Melia Hotels International Berkomitmen Kurangi Pemakaian Plastik

Friday, 14 December 18 Herry Drajat
Soap for Hope

Industri perhotelan di Indonesia saat ini sedang tumbuh dengan pesat, mengikuti perkembangan industri pariwisata. Jakarta dan Bali—dua destinasi pariwisata yang terpopuler di Indonesia—menurut data Colliers International pada tahun 2018 mendapatkan tambahan pasokan kamar baru sebanyak 2.236 dan 1.456 kamar, terdiri dari bintang 3, 4, dan 5. Sementara menurut STR, Indonesia akan memiliki tambahan 300 properti dengan 55.000 kamar baru.

Bertambahnya jumlah hotel juga akan mengakibatkan penambahan limbah yang dihasilkan, di antaranya limbah sisa sabun yang tidak terpakai dan plastik. Menurut Diversey, salah satu pelopor dalam teknologi kebersihan dan sanitasi, setiap tahunnya sebuah hotel dengan 400 kamar akan memproduksi sebanyak 3,5 ton limbah sabun. Sementara menurut data dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun di mana 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Dari sumber yang sama, sampah dalam bentuk kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar per tahun atau seberat 85.000 ton.

Melia Hotels International, salah satu jaringan hotel dari Spanyol yang memiliki 8 properti dengan 1.847 kamar, menghasilkan limbah sabun sebanyak 22 kg per hari. Melia Hotels International merespons isu lingkungan yang kritis dengan menerapkan berbagai upaya untuk  mengurangi limbah sabun dan plastik, salah satunya adalah program “Soap for Hope”, yaitu sebuah program kolaborasi dengan Diversey dengan cara mengajak staf dan para tamu hotel untuk mendaur ulang sabun yang tersisa menjadi sabun baru, yang kemudian didistribusikan kepada komunitas lokal serta dijual sebagai suvenir di mana pendapatannya akan didonasikan untuk kegiatan dan yayasan sosial.

Sampai saat ini, sebanyak tujuh properti Meliá terlibat aktif dalam program ini, termasuk Melia Purosani Yogyakarta yang mulai melaksanakannya pada akhir 2017. Kegiatan ini telah menghasilkan lebih dari 110.800 batang sabun dari 13,3 ton limbah, membuat jumlah penerima manfaat melebihi 9.800 orang.

Jeronimo Molina, General Manager Meliá Purosani Yogyakarta, mengungkapkan, “Program Soap for Hope menggambarkan nilai yang kami junjung untuk perubahan dan perkembangan lingkungan, terlebih lagi setelah properti kami menerima EarthCheck Gold Certification, salah satu klasifikasi hotel kelas dunia. Selain itu, Meliá Purosani juga telah memenangkan Green Hotel Award 2017 dari Kementerian Pariwisata dan ASEAN Green Hotel Standard 2018 sehingga ini semakin memperkuat komitmen kami dalam pendekatan ramah lingkungan dan berkelanjutan.”

Sepanjang 2017, lebih dari 22 juta limbah botol plastik telah dihasilkan oleh properti Meliá di seluruh dunia. Sebagai upaya mengurangi sampah plastik, Meliá Hotels International baru-baru ini mengumumkan akan menghilangkan semua plastik sekali pakai, termasuk botol plastik, cangkir, sedotan, kantong, dan alas piring serta menggantikannya dengan bahan biodegradable atau alternatif lain yang ramah lingkungan pada akhir 2018. Kegiatan ini akan mengurangi lebih dari 15 ton emisi karbon yang disebabkan oleh pembuangan limbah setiap tahun.

Gabriel Escarrer, Executive Vice President dan CEO Meliá Hotels International, meyakini industri memiliki peran mendasar dalam berkontribusi terhadap Sustainable Development Goals yang dicanangkan oleh PBB.

“Pengalaman tamu yang luar biasa harus disertai juga dengan rasa hormat terhadap planet ini. Dan polusi plastik adalah tantangan global yang dapat memengaruhi bisnis pariwisata, terutama yang  bergantung pada kelestarian alam. Kami telah menerapkan kebijakan keberlanjutan dalam strategi pengembangan perusahaan, dan grup kami telah digolongkan sebagai perusahaan hotel paling berkelanjutan peringkat ketiga di seluruh dunia (2018) oleh RobecoSAM baru-baru ini,” ungkap Escarrer.

Meliá Hotels International juga telah mengambil upaya lebih lanjut dalam memerangi perubahan iklim dengan menunjukkan komitmen perusahaan kepada Paris Climate Summit, dan telah masuk dalam daftar salah satu perusahaan terdepan di dunia dalam memerangi perubahan iklim oleh “Carbon Disclosure Project”, sebuah organisasi yang berpusat di Inggris yang melakukan aktivitas mengukur dampak lingkungan dari kegiatan perusahaan-perusahaan besar.