Berinteraksi Melalui Platform Digital

Wednesday, 07 July 21 Venue
Wisatawan menikmati fasilitas di Mola-Mola Resort, Lombok.

Lahirnya media sosial membuat pola perilaku masyarakat mengalami pergeseran. Baik dari segi budaya, etika, dan norma yang saat ini dijadikan satu dalam interaksi berbentuk digital. Interaksi digital mengurangi interaksi di dunia nyata.

Media sosial atau semua platform digital menjadi wadah di mana setiap makhluk sosial bisa berinteraksi. Masyarakat pun dengan mudah berinteraksi dan menciptakan interaksi pada platform digital. Hal tersebut bisa dilakukan semaksimal mungkin untuk membantu diri sendiri dan orang sekitar.

“Adanya media digital ini, positifnya kita bisa melihat bahwa kita masih bisa berinteraksi dengan orang lain,” kata Tiurida Lily Anita, Faculty Member Binus University dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Selasa (6/7/2021).

BACA JUGA:   Punya Hak Digital, Hargai HAKI

Walaupun jauh, lanjut Tiurida, tetap berkomunikasi sehingga terjadi dialog yang interaktif. Kemudian, digitalisasi juga mendukung pekerjaan menjadi lebih efisien. “Saat ini, manusia harus belajar bagaimana mahir menggunakan media sosial atau platform digital untuk memudahkan interaksi.”

Interaksi, kata dia, memiliki aksi dan reaksi. Maka dari itu, dibutuhkan lebih dari satu orang untuk berinteraksi. Interaksi juga menggunakan simbol tertentu untuk berkomunikasi. Bahasapun termasuk ke dalam simbol. Kemudian, pada interaksi tentunya ada tujuan.

Menurut teori yang disampaikan bentuk interaksi terbagi menjadi dua. Pertama, asiosiatif yakni interaksi berada dalam keadaan harmonis dalam artian tidak ada interaksi negatif. Kedua, disosiatif merupakan interaksi yang di dalamnya berisi pertentangan.

BACA JUGA:   Melindungi Bisnis dari Cybercrime

“Interaksi pada proses asosiatif kita mengenal adanya empat kegiatan yang bisa dikelompokkan. Kita mampu menciptakan kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi,” ujar Tiurida. Sebaliknya, proses disosiatif sifatnya lebih ke arah negatif. Kegiatannya bisa dikelompokkan menjadi persaingan, kontraversi, dan konflik. “Kalau saat kita berinteraksi, yang perlu dicari adalah solusi. Supaya proses disosiatif itu tidak ada.”

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, dan tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

BACA JUGA:   Bermanfaat Bagi Kehidupan, Simak Ragam Konten Positif di Internet

Kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan empat pilar utama, yaitu Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills).