7 Jam di Kota Pempek

Monday, 09 January 17   28 Views   0 Comments   Venue

Ke mana Anda akan melangkah ketika waktu yang tersisa di sebuah kota tidak lebih dari tujuh jam? Banyak wisatawan yang bingung ketika pertanyaan ini diutarakan, apalagi ketika harus berlomba dengan waktu. Pada dasarnya, menurut Kemas Abdullatief, Wakil Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Sumatera Selatan, berwisata akan lebih mudah ketika Anda mengetahui daya tarik utama destinasi tersebut.

Palembang misalnya, kota berluas 374,03 kilometer persegi ini menawarkan wisata kuliner dan sejarah sebagai suguhan utama. “Palembang memang tidak memiliki wisata alam yang dapat ditawarkan kepada turis MICE sebagai kegiatan pasca-pertemuan. Namun, saya rasa, tidak ada yang mampu menolak pesona pempek yang menjadi kudapan populer di kota ini,” kata lelaki yang akrab disapa Latief tersebut.

Akulturasi tiga budaya (Tionghoa, Melayu, dan Arab) yang terjadi pada 300 tahun silam pun turut menjadi magnet pemikat wisatawan. Budaya Arab tecermin dalam bangunan tua yang masih berdiri tegak di Perkampungan Arab. Peninggalan Tiongkok juga tersebar di sejumlah titik. Namun, etalase terbesar peninggalan Tiongkok di kawasan ini dapat ditemukan di Kampung Kapitan yang terletak di tepian Sungai Musi.

Latief menjelaskan, ada empat destinasi wisata yang dapat disambangi di Palembang dengan waktu tidak lebih dari tujuh jam. Berikut panduannya untuk Anda.

 

Taman Purbakala Bukit Seguntang

Perjalanan menyusuri Palembang dapat dimulai dari Bukit Seguntang yang terletak di kawasan Ilir Barat I, sekitar empat kilometer dari pusat Kota Palembang. Kawasan ini terbilang asri mengingat posisinya sebagai titik tertinggi di Palembang, yaitu 29-30 meter di atas permukaan laut.

Sebagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya, Bukit Seguntang merupakan pusat peribadatan umat Buddha yang identik dengan kegiatan persembahyangan. Tidaklah mengherankan bila pada tahun 1920-an, Balai Arkeologi Palembang menemukan arca Buddha Amarawati setinggi 277 sentimeter dengan material granit di kawasan ini.

“Oleh karena peninggalan bersejarah, arca itu kemudian dipindahkan ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Penemuan lainnya adalah pecahan arca Bodhisattwa, arca Kuwera, arca Wairocana, dan prasasti 21 baris yang berkisah tentang peperangan dan kutukan,” kata Latief.

Pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an, Balai Arkeologi Palembang menemukan keramik peninggalan Dinasti Tang dan Dinasti Sung dari Tiongkok di lereng Bukit Seguntang. Penemuan lainnya berlanjut pada tahun 1990-an ketika ditemukan tujuh makam keluarga Kerajaan Palembang, mulai dari Panglima Tuan Junjungan, Putri Kembang Dadar, hingga Raja Sigentar Alam.

Perkiraan waktu yang dibutuhkan: 40 menit

Tiket masuk: Rp3.000 (Dewasa), Rp2.000 (Anak-anak)

 

Tur Musi dan Pulau Kemaro

Salah satu ikon Palembang yang awam di telinga masyarakat adalah Sungai Musi. Sungai terpanjang di Sumatera ini merupakan bukti peradaban masyarakat Palembang yang kental dengan akulturasi budaya. Di sepanjang aliran sungai ini, wisatawan dapat menemukan Perkampungan Arab dan Kampung Kapitan (Perkampungan Tionghoa) yang telah berakulturasi dengan budaya lokal.

Kegiatan menyusuri sungai sepanjang 750 kilometer ini dapat dilakukan dengan menyewa dua jenis kapal. Pertama, Kapal Segentar Alam yang dikelola oleh Dinas Perhubungan Sumatera Selatan. Menurut Narko, petugas penyewaan Kapal Segentar Alam, pihaknya menyewakan tiga jenis kapal yang dibedakan berdasarkan kapasitas, mulai dari 30 hingga 150 orang.

“Kapal ini biasanya dimanfaatkan pasar korporasi untuk seminar, pelatihan, dan pertemuan. Untuk meramaikan suasana, kami juga menyediakan organ tunggal dan makan siang atau malam sebagai fasilitas tambahan di dalam kapal,” kata Narko.

Kedua, Putri Kembang Dadar yang berada di bawah pengelolaan PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya. Serupa dengan Segentar alam, kapal mewah ini dapat memuat hingga 150 penumpang. Fasilitas yang disediakan juga memadai, mulai dari pendingin udara, meja, kursi, whiteboard untuk pertemuan, dan pramuwisata.   

Bagian terbaik dari Musi Tour adalah singgah di Pulau Kemaro. Menurut Latief, kawasan berluas 180 hektare ini tidak hanya terkenal dengan legenda percintaan Tan Bun An, seorang pedagang asal Tiongkok dengan Siti Fatimah putri dari Kerajaan Palembang. Daya tarik utama Pulau Kemaro sebenarnya terletak pada Kelenteng Hok Tjing Rio yang dibangun pada tahun 1962. Bersanding dengan kelenteng, terdapat pagoda berlantai sembilan yang dibangun pada tahun 2006.

“Pulau ini ditetapkan sebagai kawasan wisata baru pada tahun 2009. Ribuan wisatawan lokal dan turis asing biasanya akan berkumpul di sini saat perayaan Cap Go Meh, 15 hari setelah Imlek. Jangan buru-buru meninggalkan Pulau Kemaro karena masih ada Pohon Cinta. Masyarakat lokal menyebutnya pohon pengukuhan cinta. Pasalnya, hubungan diramalkan akan langgeng ketika Anda menyebutkan nama pasangan di bawah pohon ini,” tutur Latief.

Perkiraan waktu yang dibutuhkan: 2 jam

KM PUTRI KEMBANG DADAR

PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya

Jl. RS. AK. Gani Kompleks Monpera, Palembang

T: (+62)82282225554, (+62)85273229121

Rute Perjalanan

Dermaga di Benteng Kuto Besak-Masjid Ki Marogan-Pulau Kemaro (transit 1 jam)-kembali ke dermaga.

Harga Sewa Kapal

Korporasi: Rp20 juta all package terdiri atas 100 peserta, makanan-minuman, dan musik

 

KM SEGENTAR ALAM

T: (+62)85295780926

Rute Perjalanan

Dermaga di Benteng Kuto Besak-Masjid Ki Marogan-Musi Dua-Pulau Kamaro (transit 1 jam)-Lawang Kidul-kembali ke dermaga.

Harga Sewa Kapal
100-150 orang:  Rp7,5 juta

60 orang: Rp4,5 juta

30 orang: Rp1,2 juta

 

Martabak Har

Sejenak, Anda dapat beristirahat sambil menikmati seporsi martabak khas Palembang di kawasan Simpang Sekip, Palembang. Label “Har” pada merek kuliner ini sebenarnya singkatan dari Haji Abdul Razak, pendiri sekaligus pemilik brand Martabak Har. Lelaki berdarah India itu datang ke Palembang pada tahun 1940 dan menikahi perempuan asli Palembang. Akulturasi budaya antara India dan Palembang inilah yang kemudian menjadi alasan penggunaan kare pada Martabak Har.

Restoran yang dijalankan mendiang Abdul Razak sejak 7 Juli 1947 itu merupakan ruko sederhana berlantai dua yang diisi furnitur berbahan rotan. Apabila Anda ingin menikmati cita rasa klasik Martabak Har ditemani nuansa 1950-an, inilah tempat yang tepat.

Sukirman, pengelola Martabak Har Simpang Sekip, mengatakan, proses pembuatan Martabak Har dimulai dengan membuat adonan kulit martabak dari tepung terigu, garam, dan air. Adonan ini kemudian dibentuk bulat-bulat kecil dan siap dipipihkan ketika akan dimasak. Untuk isinya tersedia tiga pilihan, yaitu telur ayam/bebek, sayuran, dan daging sapi. “Apa pun jenis isi yang Anda pilih, martabak ini selalu disajikan bersama kare kental berbahan santan, kentang, dan daging sapi,” katanya.

Tidak hanya martabak, restoran ini juga menawarkan Nasi Minyak yang disajikan bersama ayam goreng, kaki kambing, sate ayam/kambing, dan daging sapi. Sekilas, tampilan Nasi Minyak ini terlihat seperti kebuli. “Perbedaannya, dalam proses pembuatan Nasi Minyak kami menggunakan ‘susu beruang’ untuk memberikan cita rasa gurih,” imbuh Sukirman.

 

Perkiraan waktu yang dibutuhkan: 40 menit

MARTABAK HAR SIMPANG SEKIP

Jl. Jend. Sudirman, Simpang Sekip

Palembang (di depan Masjid Agung Palembang)

Kisaran Harga

Martabak Har: Rp17.000- Rp40.000 per porsi

Nasi Minyak dengan topping: Rp30.000-Rp40.000 per porsi

 

Songket dan Pempek

Songket dan pempek adalah dua buah tangan yang dapat Anda dapatkan di Palembang. Oleh karena itu, di pengujung petualangan di Palembang, berburu oleh-oleh adalah bagian terbaik. Sentra penghasil songket rumahan dapat ditemukan di Kampung Suro, 30 Ilir, Palembang. Menurut Latief, songket pada masa lalu merupakan simbol kebangsawanan masyarakat dan salah satu barang yang wajib ada saat pernikahan.

Pesona songket terletak pada warna mencolok dan keunikan motifnya. Palembang memiliki lebih dari 70 motif songket dengan corak populer, seperti Tigo Negeri, Biji Pare, Bungo Pacik, dan Bungo Cino. Latief menjelaskan, di Kampung Suro, produksi songket tidak hanya sekadar untuk tujuan komersial, tetapi juga upaya pelestarian budaya.

Itulah yang dilakukan Fatimah, penenun legendaris Kampung Suro, yang menjalankan usaha songket Toko Cek Ipah sejak tahun 1950. Di toko ini, sehelai songket dibanderol Rp2 juta hingga Rp35 juta. Hal ini wajar, mengingat proses penenunan songket dilakukan secara manual dan memakan waktu hingga tiga bulan, tergantung kerumitan motif. “Material pembuatan songket juga terbilang mahal karena menggunakan benang emas,” katanya.

Dari Kampung Suro, Anda dapat menuju Jalan Kapten A. Rivai, toko pusat Pempek Candy. Usaha pempek yang dilakoni Sukartina sejak tahun 1996 ini menawarkan beragam jenis pempek, mulai dari kapal selam, lenjer, pempek tahu, tekwan, mie celor, lenggang, hingga otak-otak. Untuk kenyamanan pengunjung, toko ini juga menyediakan kafe yang mampu memuat 50 orang.

Pempek Candy diolah menggunakan ikan belida, gabus, dan tenggiri. Sebagai buah tangan, Pempek Candy dikemas dalam dua paket, yaitu paket kecil dan besar yang dibanderol mulai Rp100.000 hingga Rp500.000 per paket. Apabila enggan menenteng, pengunjung dapat meminta paket dikirimkan menggunakan jasa ekspedisi. Tentunya, ada dana tambahan yang harus dikeluarkan, yaitu biaya pengiriman sebesar Rp18.000 per kilogram.   

Perkiraan waktu yang dibutuhkan: 2 jam

PEMPEK CANDY (AHUA/AENG)

Jl. Kapten A. Rivai No. 260, Palembang

T: (+62711) 318246, 360319

(+62) 81632146999 (untuk pengiriman)

Penulis: Siska Maria Eviline