Mimpi Ekspansi ke Bali dan Lombok

Tuesday, 16 October 18 Nila Sofianty

Hingga saat ini Bali masih menjadi ikon utama pariwisata Indonesia dengan kontribusi kunjungan turis domestik dan mancanegara paling besar di Tanah Air. Bali tak hanya memikat wisatawan untuk melancong, tapi juga menjadi magnet bagi para pendatang dari luar Pulau Bali untuk menetap di Pulau Dewata ini.

Hal itu jugalah yang menjadi salah satu bahan pertimbangan banyak produsen barang untuk ekspansi ke Bali. Salah satunya adalah produsen kasur “Mimpi” yang pada Oktober 2018 ini memulai ekspansinya di Pulau Bali dan Lombok lebih cepat dari rencana semula. “Kami telah merencanakan untuk ekspansi pada 2019. Akan tetapi, karena banyaknya permintaan pasar saat ini membuat kami menjadi lebih yakin untuk meluncurkan produk di Bali dan Lombok secepat mungkin,” kata Frank De Witte, pendiri dan investor Mimpi.

Kemampuan dalam menciptakan pengalaman tidur terbaik kini sudah dapat ditemukan pasokannya di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, dan Lombok. Lewat ekspansi pasar di Bali dan Lombok memungkinkan Mimpi untuk melakukan proses pengiriman lebih cepat, yaitu dua hari setelah memesan secara online di mimpi.co.id.

Salah satu keunggulan Mimpi adalah lewat masa uji cobanya. Mimpi memberikan masa uji coba 100 hari dan garansi penuh selama 10 tahun. Jika dalam masa uji coba konsumen tidak puas, maka kasur dapat dikembalikan kepada Mimpi untuk disumbangkan kepada yang membutuhkan dan konsumen pun akan tetap menerima pengembalian dana 100 persen.

Dengan hanya menawarkan dua konstruksi kasur yang ideal, Mimpi menunjukkan secara jelas pertentangannya terhadap sistem pemasaran banyak toko kasur besar saat ini yang tidak dapat menjawab kebutuhan konsumen karena kerap menghadirkan pengalaman belanja yang sangat buruk. Sistem pemasaran yang buruk tersebut terjadi karena banyak toko penuh dengan tenaga penjual yang dikendalikan oleh komisi, istilah pemasaran yang menipu, dan harga yang terlalu tinggi.

Dengan berfokus pada proses pembuatan produk dan desain yang ramping, Mimpi menjual langsung produknya kepada konsumen secara online tanpa perantara sehingga harganya hanya menjadi sepertiga harga kasur di toko-toko lain dan tentu saja jauh lebih terjangkau bagi konsumen.

Frank mengatakan, industri kasur di Indonesia sangat berbelit-belit, sengaja membingungkan, dan banyak sekali produk yang terlalu mahal dan ketinggalan zaman merajalela di pasaran. “Konsumen siap untuk berubah, dan kami sangat bersemangat untuk memperkenalkan kepada banyak orang mengenai bagaimana cara yang lebih mudah untuk tidur di malam hari dengan kualitas tidur yang lebih baik,” ujar Frank.

Dari sisi desain, kasur Mimpi dirancang di Belgia yang menyatukan busa lateks dan teknologi memory foam. Konstruksinya setinggi 25 cm secara eksklusif mengikuti kontur tubuh penggunanya, memberikan rasa sejuk pada kasur, dan menopang tubuh dengan sangat nyaman.

Mimpi memberikan layanan gratis biaya pengiriman melalui layanan kurir hanya dalam dua hari. Untuk mengemas kasur, Mimpi menggunakan mesin kompresi dari Eropa yang dipatenkan untuk memungkinkan pengiriman yang lebih ringkas dan efisien karena dapat mengurangi biaya pengiriman lebih dari 66 persen. Kasur akan tiba pada konsumen dalam kotak kecil, seukuran tas golf, dan dapat pula masuk di bagasi mobil untuk membantu proses transportasi barang.

Produk ini diproduksi dengan busa premium. Dengan “Macbook Meets Mattress” sebagai signature-nya, cover kasur dibuat dengan material yang berasal dari Belgia, Jerman, dan Swiss.

Mimpi yang saat ini masih bootstrap (pendanaan pribadi) adalah startup yang diluncurkan pada Desember 2016 yang menawarkan kasur dengan kualitas terbaik kepada konsumen secara langsung dan harga yang terjangkau. Hal ini dapat dilakukan karena Mimpi menghilangkan komisi tenaga penjual sehingga tidak perlu lagi mematok harga yang tinggi kepada konsumen.