Pameran Online Akan Menjadi Tren Baru Pasca-COVID-19

Friday, 22 May 20 Bonita Ningsih

Pelaku industri pameran tengah mempersiapkan inovasi terbaru jika pandemi COVID-19 belum berakhir di Indonesia. Apalagi, dengan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang belum dicabut pemerintah, membuat pelaku pameran kesulitan dalam menyelenggarakan acaranya.

“Semua pameran itu di-hold, memang ada beberapa pameran yang akan dimulai Juni besok, tetapi basisnya di online,” kata Hosea Andreas Runkat, Ketua Umum DPP Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (ASPERAPI) dalam kegiatan ASPERAPI Afternoon Talk Webinar.

Menurut Andre, pameran online akan menjadi tren baru jika penyebaran COVID-19 masih terjadi di berbagai negara, khususnya Indonesia. Namun, Andre belum dapat memastikan apakah nantinya semua pameran akan berinovasi ke online atau masih ada beberapa yang mempertahankan secara offline.

“Mungkin ada pameran yang berubah, tetapi tidak bisa mengubah secara keseluruhan. Jadi, kita tidak tahu apakah pameran akan 100 persen beralih ke online atau tidak, ini masih kita tunggu kabar selanjutnya,” ujar Andre.

Pada kesempatan yang sama, Agus Wibowo selaku Direktur Pengembangan Strategi Penanggulangan Bencana BNPB mengatakan, sudah saatnya pelaku industri pameran mencoba inovasi terbaru berupa pameran virtual. Apalagi, menurutnya, tidak ada yang tahu kapan virus ini akan berakhir sehingga diperlukan inovasi-inovasi terbaru untuk tetap menjalankan bisnisnya.

“WHO itu sudah beri statement, virus ini tidak akan bisa hilang 100 persen sebelum ada vaksin yang ditemukan. Mereka bilang untuk menciptakan vaksin itu butuh waktu lama, kurang lebih satu tahun,” ujar Agus.

Dalam pelaksanaannya, Agus meminta pelaku industri pameran memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk membuat sebuah pameran virtual, menciptakan teknologi terbaru yang seolah-olah mengajak masyarakat untuk datang secara langsung ke sebuah area pameran.

“Jadi, nantinya bisnis pameran ini akan berubah, hanya melalui internet. Manfaatkan teknologi yang ada sehingga dapat merasakan langsung isi pameran tersebut,” ucap Agus lagi.

Di kegiatan ASPERAPI Afternoon Talk Webinar sebelumnya, Cucu Ahmad Kurnia, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, juga mengatakan hal serupa. Menurutnya, membuat pameran virtual dapat menjadi solusi terbaik di tengah pandemi ini. Apalagi, pasca-COVID-19 akan terjadi perubahan budaya yang dialami oleh masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

“Membuat pameran virtual ini memang bagus, tetapi saya rasa sense pameran itu sendiri tidak akan tergantikan jika hanya melalui virtual. Jadi, apakah ke depannya akan berubah seperti itu semua, harus ditelusuri lebih dalam lagi oleh pelaku industri MICE,” ungkap Cucu.

Oleh karenanya, Andre akan tetap mendukung semua hal yang berkaitan dengan pameran, baik secara online maupun offline. Menurutnya, jika peminat pameran offline masih banyak di kondisi new normal mendatang, ia menyarankan agar dimulai dengan pameran berskala kecil terlebih dahulu. Setelahnya, baru disusul membuat pameran berskala medium hingga skala besar.

“Kita itu belajar dari yang kecil dulu, kalau sudah berhasil baru merangkak ke medium, habis itu baru ke besar. Saya juga menyarankan, buat pemain pameran B2B, lebih baik sekarang bermain di pameran domestik dulu,” Andre menambahkan.